Diidap Thalita Latief, Ini Cara Mengobati Tumor Tiroid

diidap-thalita-latief-ini-cara-mengobati-tumor-tiroid-halodoc

Halodoc, Jakarta – Baru-baru ini, artis Thalita Latief mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis tumor tiroid melalui akun instagramnya. Tidak main-main, tumor tiroid yang diidapnya sudah mencapai stadium 4. Thalita Latief mengaku sudah menjalani perawatan selama 2 bulan di rumah sakit, dan juga baru saja menjalani pengangkatan tumor melalui prosedur operasi. Sebenarnya bagaimana cara mengobati tumor tiroid? Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut di bawah ini.

Kanker tiroid adalah salah satu dari beberapa jenis kanker yang terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Di Indonesia sendiri, kanker tiroid masuk dalam daftar 10 penyakit besar yang paling banyak diidap masyarakat Indonesia. Jenis kanker ini terjadi di sel-sel tiroid, yaitu kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di pangkal leher, tepat di bawah jakun. Tiroid merupakan kelenjar yang berperan dalam menghasilkan hormon yang mengatur detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan berat badan seseorang.

Baca juga: Perlu Waspada, Wanita Lebih Rentan Terkena Kanker Tiroid

Gejala Kanker Tiroid

Kanker tiroid seringkali tidak menimbulkan gejala apapun pada awalnya. Baru ketika kanker tersebut tumbuh, beberapa gejala berikut ini dapat terjadi:

  • Terdapat benjolan yang bisa dirasakan melalui kulit di leher.

  • Perubahan suara, seperti suara menjadi sangat serak.

  • Kesulitan menelan.

  • Nyeri di leher dan tenggorokan.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening.

Bila kamu mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, kamu bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu melalui aplikasi Halodoc, lho.

Baca juga: Suara Serak Bisa jadi Pertanda Tumor Tenggorokan

Pengobatan Kanker Tiroid

Pilihan pengobatan untuk kanker tiroid tergantung pada jenis dan stadium kanker yang dimiliki pengidap, kesehatan pengidap secara keseluruhan, dan preferensi pengidap. Kabar baiknya, sebagian besar kanker tiroid dapat disembuhkan dengan melakukan pengobatan.

Perlu diketahui, kanker tiroid kadang kala tidak perlu diobati segera. Bila kanker tiroid masih sangat kecil dan berpotensi rendah menyebar di tubuh, pengobatan tidak perlu segera dilakukan. Sebagai gantinya, pengidap dianjurkan untuk meminta bantuan dokter untuk melakukan pemantauan kanker secara rutin. Dokter mungkin akan merekomendasikan tes darah dan pemeriksaan ultrasonografi leher sekali atau dua kali per tahun. 

Pada beberapa orang, kanker tiroid mungkin tidak pernah tumbuh, sehingga tidak perlu diobati. Namun, bila pertumbuhan kanker terdeteksi, berikut ini beberapa pilihan pengobatan yang bisa dilakukan:

1. Operasi

Kebanyakan pengidap kanker tiroid perlu menjalani operasi untuk pengangkatan tiroid. Operasi yang dilakukan juga tergantung pada jenis kanker tiroid, ukuran kanker, apakah kanker sudah menyebar di luar tiroid, dan hasil pemeriksaan USG seluruh kelenjar tiroid.

Jenis operasi yang dilakukan untuk mengobati kanker tiroid meliputi:

  • Tiroidektomi. Operasi yang bertujuan untuk mengangkat kelenjar tiroid ini mungkin melibatkan pengangkatan semua jaringan tiroid (tiroidektomi total) atau sebagian besar jaringan tiroid (tiroidektomi total dekat). 

  • Tiroid Lobektomi. Selama prosedur tiroid lobektomi berlangsung, dokter akan mengangkat setengah dari tiroid. Prosedur ini mungkin disarankan bila kamu memiliki kelenjar tiroid yang bertumbuh dengan lambat di salah satu bagian tiroid dan tidak ada nodul yang mencurigakan di area tiroid lainya.

  • Diseksi Kelenjar Getah Bening
    Saat mengangkat tiroid, dokter bedah juga dapat mengangkat kelenjar getah bening di leher.

2. Terapi Hormon Tiroid

Setelah menjalani tiroidektomi, pengidap bisa dianjurkan untuk meminum obat hormon tiroid levothyroxine seumur hidup. Obat ini bermanfaat untuk memasok hormon yang hilang yang biasanya diproduksi oleh tiroid dan menekan produksi hormon perangsang tiroid (TSH) dari kelenjar hipofisis.

3. Yodium Radioaktif

Metode pengobatan yodium radioaktif dilakukan dengan menggunakan bentuk yodium yang bersifat radioaktif dalam jumlah besar. Tujuannya untuk menghancurkan jaringan tiroid sehat yang tersisa dan area mikroskopis kanker tiroid yang tidak diangkat selama operasi.

4. Terapi Radiasi Eksternal

Terapi radiasi eksternal mungkin disarankan bila operasi bukan pilihan pengobatan yang tepat dan kanker terus bertumbuh setelah perawatan yodium radioaktif.

5. Kemoterapi

Kemoterapi jarang digunakan dalam pengobatan kanker tiroid, tetapi kadang-kadang direkomendasikan untuk orang dengan kanker tiroid anaplastik. Kemoterapi dapat dikombinasikan dengan terapi radiasi.

6. Terapi Obat yang Ditargetkan

Terapi obat yang ditargetkan berfokus pada kelainan spesifik yang ada dalam sel kanker. Dengan memblokir kelainan ini, perawatan obat yang ditargetkan dapat membuat sel kanker mati.

7. Menyuntikkan Alkohol Ke Dalam Kanker

Ablasi alkohol melibatkan penyuntikan kanker tiroid kecil dengan alkohol menggunakan pencitraan seperti ultrasonografi untuk memastikan lokasi injeksi yang tepat. Prosedur ini bermanfaat untuk membuat kanker tiroid menyusut.

8. Perawatan Suportif (Paliatif)

Perawatan paliatif adalah perawatan medis khusus yang berfokus pada pemberian bantuan untuk mengatasi rasa sakit dan gejala penyakit serius lainnya. Spesialis perawatan paliatif akan bekerja sama dengan pengidap, keluarga pengidap, dan dokter lainnya untuk memberikan dukungan tambahan yang melengkapi perawatan berkelanjutan pengidap.

Baca juga: Awas 6 Penyakit Ini Bisa Menyerang Kelenjar Tiroid

Itulah beberapa prosedur pengobatan untuk menangani kanker tiroid. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play sebagai teman penolong untuk menjaga kesehatanmu sekeluarga.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Thyroid cancer.

Ini Alasan di Balik Aroma Bayi yang Khas

Ini Alasan di Balik Aroma Bayi yang Khas

Halodoc, Jakarta – Siapa sih yang tidak suka aroma bayi yang khas? Ya, selain menggemaskan, semua orang menyukai bayi karena aromanya yang khas nan menyenangkan. Saking menyenangkannya, aroma bayi ini mendorong seseorang untuk terus-menerus menciumnya, bahkan menaruh kasih sayang lebih padanya. Namun, mengapa aroma bayi bisa begitu khas, ya?

Studi yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa harumnya aroma tubuh bayi itu berasal dari tubuh bayi itu sendiri, tepatnya kelenjar keringatnya. Aroma tersebut bisa begitu khas dan menyenangkan karena asupan nutrisi bayi biasanya hanya berupa ASI. Kemudian seiring bertambahnya usia dan perubahan metabolisme tubuh serta jumlah makanannya sehari-hari, aroma khas bayi akan memudar dan hilang secara perlahan.

Baca juga: Bahaya Produk Berpewangi untuk Bayi

Kombinasi dari Berbagai Faktor

Meski cukup banyak penelitian yang membahas mengenai aroma bayi baru lahir, tidak ada yang tahu pasti dari mana wangi tersebut berasal. Diprediksi, seperti aroma tubuh manusia pada umumnya, aroma bayi tersebut merupakan kombinasi dari berbagai faktor. Perlu diketahui bahwa aroma tubuh merupakan senyawa kimia yang sangat sulit untuk diketahui jenisnya. 

Umumnya, manusia memiliki sekitar 120-130 bau, dengan jenis yang bervariasi antara 1 individu dan individu lainnya. Dugaan lain, salah satu sumber aroma bayi adalah vemix caseosa, yaitu lapisan dan zat berwarna putih yang menyelubungi bayi ketika dilahirkan. Biasanya, petugas medis akan membersihkan zat ini sesaat setelah persalinan, tetapi sisa-sisa jejaknya mungkin saja masih tersisa di rambut atau lipatan tangan dan kaki.

Sementara itu, peneliti juga mengira bahwa aroma khas bayi berasal dari sisa air ketuban. Hal ini dikarenakan ada penelitian yang menyebutkan bahwa air ketuban memiliki wangi yang khas pada setiap ibu hamil. Itu juga yang mungkin menjadi sumber dari aroma bayi baru lahir. Penelitian itu dilakukan pada 1988 terhadap 15 ibu, untuk membuktikan apakah air ketuban memang memiliki bau yang berbeda. 

Baca juga: Ini Barang Wajib untuk Bayi Baru Lahir

Masing-masing partisipan kemudian diberikan 2 botol air ketuban dan ternyata sebanyak 12 ibu bisa menjawab dengan benar yang mana air ketuban mereka. Salah satu fakta yang menarik lagi adalah aroma khas bayi baru lahir ini tidak berlangsung lama. Seiring bayi bertambah besar, aroma khas ini akan menghilang dan mungkin saja digantikan dengan bau produk kosmetik atau minyak tertentu yang dipakaikan oleh ibu. 

Pembentuk Bonding

Terkait aroma khas bayi, di penelitian lain, para ahli meneliti 30 wanita, 15 orang baru saja melahirkan dan 15 sisanya belum pernah menjalani persalinan. Kemudian, mereka diminta untuk mengidentifikasi aroma khas pada bayi dan memonitor aktivitas otak mereka saat mencium aroma tersebut. Ketika diberikan sebuah piyama bayi dan diminta untuk menciumnya, otak para wanita itu ternyata menunjukkan aktivitas yang sama, yaitu lepasnya hormon dopamin akibat munculnya rasa bahagia. 

Baca juga: Berapa Suhu Tubuh Normal pada Bayi?

Reaksi tersebut terjadi pada semua wanita, tetapi lebih kuat dialami oleh mereka yang telah menjadi ibu. Terkait hal ini, ahli biologi dari Monell Chemical Senses Center di Philadelphia, AS, Johan Lundstrom, mengatakan bahwa otak wanita telah ‘terprogram’ untuk bisa mencium wangi ini sebagai salah satu bekalnya menjadi ibu.

Jadi, dapat dikatakan bahwa aroma yang dimiliki bayi baru itu juga merupakan alat untuk membentuk ikatan kuat antara ibu dan anaknya. Percobaan untuk meneliti aroma khas bayi sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Pada 1984, sebuah studi dilakukan pada beberapa ibu dengan memberikan 3 buah pakaian yang salah satunya adalah milik sang anak. Mereka diminta menebak yang mana pakaian bayinya, dan sebanyak 80 persen ibu menjawab dengan benar. 

Referensi:

Frontiers in Psychology. Diakses pada 2020. Maternal status regulates cortical responses to the body odor of newborns.

Daily Mail. Diakses pada 2020. Why babies smell lovely, but teenagers pong: Newborns have a pleasant scent so that parents are encouraged to take care of them, research shows.

Motherly. Diakses pada 2020. That newborn baby scent is addictive—science explains why.

Newborn, Perlukah Rambutnya Dicukur Habis?

Newborn, Perlukah Rambutnya Dicukur Habis?

Halodoc, Jakarta – Di Indonesia, ada sebuah tradisi turun-temurun untuk menggunduli kepala bayi yang baru berusia sekitar 40 hari. Tradisi ini bahkan menjadi salah satu peristiwa yang penting bagi orangtua dan keluarga besar si bayi. Selain memenuhi tradisi, banyak orang yang juga percaya bahwa mencukur habis rambut bayi dapat memperkuat akar rambutnya, sehingga nantinya rambut bayi akan tumbuh lebih kuat dan lebat.

Namun, dari segi medis, sebenarnya perlukah rambut bayi baru lahir dicukur habis? Sebenarnya tidak perlu. Apalagi jika rambut bayi dicukur habis, dengan menggunakan pisau cukur. Hal ini dapat berisiko melukai kulit kepala bayi yang masih tipis. Jika tetap ingin mencukur rambut bayi, sebaiknya jangan sampai habis. Cukurlah seperlunya untuk merapikannya.

Baca juga: Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Cukur Rambut Bayi

Tak Menjamin Rambut Tumbuh Lebih Tebal dan Kuat

Alasan mencukur rambut bayi hingga botak memang beragam. Banyak yang melakukannya untuk alasan tradisi, sedangkan beberapa lainnya hanya untuk mencoba keberuntungan. Pada akhirnya, keputusan untuk mencukur habis rambut bayi memang tergantung pada pilihan pribadi orangtua. Namun, satu hal yang pasti, jika alasannya untuk membuat rambut bayi tumbuh lebih tebal dan kuat, sepertinya ini keliru.

Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mencukur habis rambut bayi akan membuatnya tumbuh lebih lebat dan kuat. Sebab, mencukur tidaklah memengaruhi apa yang terjadi di dalam folikel rambut. Perlu diketahui bahwa rambut manusia tumbuh dari folikel yang berada di bawah lapisan kulit kepala. Meski rambut bayi dicukur habis hingga tidak ada lagi rambut yang mencuat, folikel rambut bayi tidak akan terpengaruh sama sekali.

Baca juga: Tips Rawat Rambut Bayi agar Lebat

Rambut baru yang tumbuh setelah digunduli akan tetap memiliki sifat yang sama seperti rambut sebelumnya. Meski terasa lebih lebat, hal itu bukan karena kamu mencukur habis rambutnya, karena panjang rambutnya jadi merata. Sebab, rambut bayi yang dibiarkan tumbuh alami panjangnya biasanya tidak rata, karena setiap helai rambut memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda. 

Jika kamu ingin rambut bayi tumbuh kuat, sehat, dan lebat, yang perlu diperhatikan adalah kebersihan rambut serta asupan gizi. Selalu beri sang buah hati makanan bergizi seimbang, agar tumbuh kembang (termasuk pertumbuhan rambutnya) bisa optimal. Kalau butuh saran dari dokter gizi dalam pemenuhan gizi Si Kecil, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter lewat chat, kapan dan di mana saja.

Tips Jika Ingin Mencukur Rambut Bayi

Secara medis memang tidak ada keharusan untuk mencukur rambut Si Kecil sampai pelontos. Jadi keputusan mencukur rambut bayi ada di tangan orangtua masing-masing. Kamu bisa memilih untuk membiarkannya tumbuh alami atau menggundulinya agar bayi merasa lebih nyaman. Terutama jika ia sering berada di ruangan atau lingkungan yang udaranya cukup panas dan lembap. 

Baca juga: Cukur Rambut Bayi Bikin Lebat, Mitos atau Fakta?

Nah, kalau kamu ingin mencukur rambut bayi, berikut adalah tips-tips yang mungkin bisa membantu:

  • Tetap tenang dan percaya diri sebelum mencukur habis rambut bayi. Kalau kamu tidak berani, sebaiknya biarkan orang lain yang melakukannya atau tunggu hingga kamu atau pasangan benar-benar siap secara mental.

  • Pangku bayi dalam posisi terlentang dengan satu tangan mengangkat rambut yang ingin dipotong dan tangan lain untuk menggunting. Jika takut, mintalah bantuan orang lain agar bisa memangku dan memegangi bayi sementara kamu mencukur rambut bayi.

  • Gunakan gunting dengan ujung yang tumpul dan pastikan untuk membasahi rambut bayi dengan air hangat, tapi tak perlu sampai basah kuyup.

  • Jika ingin mencukur kepala bayi sampai pelontos, gunakan cukuran baru yang belum pernah dipakai. Pastikan untuk mencukurnya sepelan mungkin dengan meratakan dulu kulit kepalanya, agar tidak ada lipatan kulit yang tergores.

  • Jika ada goresan pada kulit kepala bayi hingga berdarah, segera bawa ke pusat layanan kesehatan terdekat.

Referensi:
Baby Center. Diakses pada 2020. Is it true that shaving a baby’s head makes the hair grow in thicker and stronger?
The Health Site. Diakses pada 2020. Is shaving a baby’s head good or bad?
New Kids Center. Diakses pada 2020. Shaving Baby’s Head. 

6 Hal ini Terjadi pada Otak Bayi Baru Lahir

6 Hal ini Terjadi pada Otak Bayi Baru Lahir

Halodoc, Jakarta – Sebagai pusat kecerdasan, pengatur indra, inisiator gerak, dan pengontrol perilaku, perkembangan otak di beberapa bulan dan tahun pertama Si Kecil tak kalah seru untuk diperhatikan. Perlu diketahui bahwa bagian-bagian utama otak bayi baru lahir sebenarnya sudah lengkap terbentuk. Kemudian, otak bayi akan segera mengalami proses pematangan yang perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat. 

Berikut beberapa hal penting yang terjadi pada otak bayi baru lahir dan perkembangannya:

1. Otak Bayi Sangat Aktif, Bahkan Melebihi Orang Dewasa

Bayi terlahir dengan banyak sekali neuron, yang jumlahnya mencapai 100 triliun. Selama setahun pertama kehidupannya, neuron-neuron tersebut akan terhubung satu dengan yang lainnya, hingga mencapai dua kali lipat. Kemudian menciptakan triliunan sinapsis, yang merupakan bekal anak dalam memahami dunia. 

Baca juga: 7 Hal yang Bantu Perkembangan Otak Janin

Barulah setelah usianya 12 bulan, otak bayi akan membesar menjadi dua kali lipat ukuran sebelumnya. Dalam waktu yang singkat itu, ada begitu banyak koneksi saraf yang terbentuk. Di masa ini, sebaiknya orangtua mengajarkan banyak ilmu padanya buah hati. Namun, di saat yang sama, biarkan juga otaknya beristirahat selama tidur dan waktu bermain. Sebab, hanya dengan mengamati dunia di sekitarnya, ternyata sudah cukup untuk merangsang otak bayi.

2. 60 Persen Energinya Dihabiskan untuk Perkembangan Otak

Tahukah kamu, 60 persen energi metabolik bayi dihabiskan untuk perkembangan otaknya, lho. Itulah sebabnya, bayi membutuhkan waktu sekitar 12 jam sehari untuk tidur dan beristirahat. Energi terbesar akan dipakai oleh prefrontal korteks untuk mempelajari logika dan pemikiran jangka panjang. Hal ini berlangsung hingga usianya 10 tahun.

3. Pelukan Dapat Membuat Otak Bayi Lebih Besar

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Washington University di St. Louis mengamati pertumbuhan bagian otak yang bertanggung jawab untuk memori dan modulasi stres, yaitu disebut hippocampus. Dari penelitian tersebut, ditemukan fakta bahwa otak bayi akan lebih berkembang dengan baik jika menerima lebih banyak pelukan tulus dari ibunya. Jadi, sempatkanlah untuk selalu menenangkan buah hati dengan pelukan, terutama selagi ia masih bayi. 

4. Otak Bayi Mengandalkan Aroma

Bayi baru lahir belum mengerti bahasa, bahkan penglihatannya pun belum terlalu tajam. Ia hanya dapat fokus pada objek yang berjarak 30 sentimeter dari dirinya, seperti wajah sang ibu ketika sedang menggendongnya. Saat itu, sumber informasi terpercaya yang dapat diandalkan bayi adalah aroma. 

Baca juga: Faktor Penyebab Bayi Mengalami Lumpuh Otak

Terkait hal ini, suatu penelitian menemukan bahwa bayi baru lahir yang langsung mencium bau puting atau air susu ibu memiliki tingkat stres lebih rendah, ketimbang bayi yang meminum susu formula dari dot. Penelitian lain juga menemukan bahwa bayi yang menangis akan lebih cepat diam, jika diberikan pakaian yang beraroma menyerupai ibu mereka, dibandingkan bayi yang diberikan pakaian tanpa aroma.

5. Ingatan Bayi Jauh Lebih Baik dari Perkiraan

Bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk ingatan, hippocampus, sudah 40 persen berkembang pada bayi baru lahir. Hippocampus juga akan berkembang penuh ketika usianya 18 bulan. Itulah sebabnya bayi baru lahir akan mengenali suara ibunya dan suara lain yang sudah ia sering dengar dari rahim. 

Pada usia 4 bulan, bayi akan dapat mengenali wajah ibu lebih cepat ketimbang wajah orang lain. Hal ini karena memori bayi sudah berjalan. Jadi, sebaiknya mulai persiapkanlah kegiatan rutin dan bantu bayi membentuk rutinitas harian. Mandi dan membaca buku sebelum tidur misalnya, akan memicu memori bayi di usia lebih besar nanti.

Baca juga: 4 Tahap Perkembangan Motorik Anak Usia 0-12

6. Otak Bayi Memperhatikan Segala Sesuatu

Selain memiliki banyak sel, otak bayi baru lahir juga memiliki jaringan yang membuatnya sulit menyaring berbagai rangsangan. Jika orang dewasa bisa dengan mudah mengeliminasi bunyi-bunyian tak penting (seperti suara televisi atau suara orang batuk di kejauhan), bayi tak punya kemampuan itu. Itulah sebabnya bayi dapat sangat mudah terbangun dari tidur. Jika kamu ingin bayi berkonsentrasi pada hal yang ada di hadapannya, seperti menyusu atau makan, bawalah ia ke tempat yang tenang dengan cahaya remang.  

Itulah 6 hal yang terjadi pada otak bayi baru lahir dan perkembangannya. Jika Si Kecil mengalami masalah kesehatan dan ibu memerlukan saran pertolongan pertama yang cepat, cobalah download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter lewat chat. Kalau dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut, ibu juga bisa buat janji dengan dokter anak di rumah sakit lewat aplikasi, agar tak perlu lama mengantri.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Early Brain Development and Health.
Brain Facts. Diakses pada 2020. The First Years of Life.
Parents. Diakses pada 2020. The ABC’s of Baby Brain Development.
Live Science. Diakses pada 2020. 11 Facts Every Parent Should Know About Their Baby’s Brain.

Ini Tanda Perkembangan Bayi Terlambat

Ini Tanda Perkembangan Bayi Terlambat

Halodoc, Jakarta – Sebenarnya, setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda-beda. Namun, apa yang menjadi tanda bahwa perkembangan bayi dikategorikan ‘terlambat’? Yuk, simak beberapa panduan berikut ini, agar kamu juga tidak terlalu santai hingga terlambat tahu dan tidak pula panik berlebihan padahal pertumbuhan Si Kecil normal.

Usia 13 Bulan:

  • Belum bisa berjongkok ketika bermain.

  • Mengalami kesulitan ketika memanjat atau turun dari kursi.

  • Belum bisa menjumput makanan dengan jari-jarinya.

Usia 15 Bulan:

  • Belum bisa memanjat kursi atau meraih benda yang terletak di tempat tinggi.

  • Tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri jika duduk di lantai.

  • Tidak bisa memegang krayon dan mencorat-coret kertas.

Baca juga: Anak Telat Berjalan? Ini 4 Penyebabnya

Usia 18 Bulan:

  • Belum bisa berjalan.

  • Mengalami kesulitan saat menuruni tangga meski dituntun.

  • Tidak bisa memegang krayon dengan benar dan mencorat-coret.

  • Tidak bisa membuka kaus kakinya sendiri.

Usia 21 Bulan:

  • Tidak bisa membalik halaman buku berkertas tebal.

  • Mengalami kesulitan saat naik atau turun tangga dengan berpegangan di susuran tangga.

  • Belum bisa menendang bola, meski sudah dicontohkan.

Usia 24 Bulan:

  • Tidak bisa mendorong mainan yang memiliki roda.

  • Mengalami kesulitan saat berlari dan memakai sendok saat makan.

  • Tidak bisa menendang bola berukuran besar.

  • Tidak bisa atau tidak mau mencoba berdiri dengan satu kaki.

Usia 30 Bulan:

  • Selalu meminta bantuan saat naik tangga, karena kesulitan memindahkan kaki.

  • Tidak bisa membalik halaman buku.

  • Tidak bisa berdiri dengan satu kaki selama beberapa detik.

  • Tidak bisa mengayuh sepeda, bahkan yang roda tiga.

Baca juga: Anak Alami Gangguan Pendengaran Bisa Jadi Terlambat Bicara

Usia 36 Bulan:

  • Masih membutuhkan bantuan untuk menuruni tangga, karena kesulitan memindahkan kaki.

  • Tidak bisa berdiri dengan satu kaki selama beberapa menit.

  • Tidak bisa melempar benda dengan tangan di atas kepala.

  • Tidak bisa mencuci tangan dan mengeringkannya sendiri.

Jika Si Kecil mengalami salah satu atau beberapa dari tanda pertumbuhan terlambat itu, sebaiknya segera bicarakan dengan dokter di Halodoc lewat chat. Kalau dokter menyarankan pemeriksaan lebih lanjut, buatlah janji temu dengan dokter anak di rumah sakit lewat aplikasi Halodoc, agar tidak perlu lama antri.

Berbagai Faktor Perkembangan Anak

Pada tahap tumbuh kembang, ada setidaknya empat faktor perkembangan yang menjadi patokan apakah Si Kecil sehat atau tidak. Faktor-faktor itu adalah perkembangan sosial, kecerdasan, bahasa, dan fisik. Setiap anak memang memiliki waktu pencapaian yang berbeda-beda. Namun, para ahli dapat memetakan rentang waktu rata-ratanya. Tugas orangtua adalah mengecek apakah perkembangan Si Kecil sudah sesuai dengan rentang waktu yang seharusnya atau belum.

Perlu diketahui bahwa perkembangan fisik anak dibagi dalam dua kategori besar, yaitu motorik halus dan kasar. Motorik halus adalah beragam kegiatan yang melibatkan tangan, jari, dan otot-otot kecil. Contohnya adalah menulis, makan, bertepuk tangan, dan menyusun balok. Sementara itu, motorik kasar adalah berbagai kegiatan fisik yang mengembangkan banyak otot besar, seperti otot kaki dan punggung. Contoh kegiatan motorik kasar adalah merangkak, berjalan, berlari, atau memanjat.

Baca juga: Tumbuh Kembang Jadi Lambat, Ketahui Gejala Sindrom Angelman

Usia 0-3 tahun adalah masa emas bagi tumbuh kembang seorang anak. Jadi, pemantauan yang menyeluruh akan membuat masa emas itu maksimal hasilnya. Oleh karena itu, orangtua harus peka dan rajin memantau perkembangan dan pertumbuhan anaknya. Jika terdeteksi ada keterlambatan, segera bicarakan dengan dokter, untuk mencari tahu apa penyebabnya dan bagaimana langkah yang bisa dilakukan.

Ada beberapa metode skrining yang biasa digunakan untuk memantau perkembangan anak. Salah satunya adalah Diagram Denver II. Dokter biasanya akan menanyakan perkembangan aspek sosial, bahasa, kecerdasan, dan fisik serta mengecek pertumbuhan Si Kecil, pada sesi pemeriksaan rutin. Namun karena keterbatasan waktu, orangtua yang harus aktif memberi informasi sebanyak-banyaknya kepada dokter.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Concerned About Your Child’s Development? 
WebMD. Diakses pada 2020. Recognizing Developmental Delays in Children.
Kid’s Health. Diakses pada 2020. What Is a Growth Disorder?

 

Perlu Tahu, 9 Penyakit yang Hanya Sering Dialami Wanita

Perlu Tahu, 9 Penyakit yang Hanya Sering Dialami Wanita

Halodoc, Jakarta – Sebenarnya, baik pria ataupun wanita, memiliki risiko yang sama untuk terserang suatu penyakit. Bahkan, ada penyakit yang hanya bisa diidap oleh pria saja, seperti kanker prostat misalnya. Nah sebaliknya, wanita juga bisa terserang penyakit tertentu yang tidak mungkin dialami oleh pria, seperti kanker rahim. Namun, selain kanker rahim, ternyata ada beberapa penyakit lainnya yang hanya sering dialami oleh wanita saja, atau risikonya memang paling tinggi pada wanita, ketimbang pria. Penyakit apa sajakah itu? 

1. Lupus

Lupus adalah sejenis penyakit autoimun yang sebenarnya bisa menyerang siapa saja tanpa kenal usia dan jenis kelamin. Kendati demikian, 90 persen pengidapnya ternyata adalah wanita usia produktif. Meningkatnya kadar hormon estrogen di masa subur, disertai dengan adanya faktor dari lingkungan, merupakan faktor pemicu meningkatnya risiko penyakit lupus di kalangan wanita. 

Gejala lupus umumnya bervariasi dan cukup sulit untuk didiagnosis. Jadi, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter jika mengalami nyeri otot, sakit di bagian sendi, ruam wajah, kelelahan, hingga nyeri dada yang berlangsung cukup lama. Agar lebih mudah, kamu bisa bicarakan dengan dokter di aplikasi Halodoc lewat chat, kapan dan di mana saja. 

Baca juga: 5 Penyakit Kelamin Berbahaya pada Wanita

2. Depresi

Penyakit yang sering menyerang wanita selanjutnya adalah depresi. Menurut survei dari Centers for Disease Control and Prevention, di Amerika Serikat, wanita memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami depresi ketimbang pria. Uniknya, hal ini dipicu oleh perbedaan fisiologis antara tubuh wanita dan pria, yaitu terkait perubahan hormon yang terjadi setiap bulan, usai melahirkan, serta sebelum dan selama masa menopause.

3. Osteoarthritis

Meskipun osteoarthritis bisa menyerang wanita maupun pria, wanita memiliki risiko sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan pria. Hal ini karena tubuh wanita tersusun oleh sendi yang lebih fleksibel dan tendon yang lebih elastis ketimbang pria, sehingga memudahkan mereka selama masa kehamilan dan persalinan. Namun, hal itu ternyata membuat risiko cedera dan osteoarthritis pada wanita lebih tinggi.

Tak hanya itu, Centers for Disease Control and Prevention juga mencatat bahwa wanita yang berusia di atas 50 tahun lebih berisiko untuk mengalami osteoarthritis. Hal ini karena kadar estrogen dalam tubuhnya yang semakin menurun. Padahal, hormon tersebut berperan penting dalam melindungi tulang rawan dan sendi dari peradangan.

4. Penyakit Menular Seksual

Wanita lebih rentan terkena penyakit menular seksual, karena lapisan pada organ intimnya cenderung lebih lembut dan tipis, dibandingkan dengan organ intim pada pria. Akibatnya, bakteri dan virus akan lebih mudah untuk menembus masuk ke dalam vagina. Dampaknya, penyakit seperti radang panggul, klamidia, serta gonore pun meningkat risikonya.

Baca juga: Ini yang Dilakukan Setiap Hari oleh Wanita Berkulit Sehat

5. Infeksi Saluran Kemih

Perbedaan anatomi tubuh wanita dan pria merupakan salah satu alasan mengapa ada beberapa penyakit yang lebih sering menyerang wanita, seperti infeksi saluran kemih misalnya. Letak saluran kencing wanita dekat dengan vagina dan rektum, yang mana banyak bakteri hidup pada bagian tersebut. Itulah sebabnya, wanita berisiko lebih tinggi untuk terkena infeksi saluran kemih, dibanding pria. 

6. Tiroid

Menurut American Thyroid Association, wanita memiliki risiko lima hingga delapan kali lebih besar untuk mengalami masalah tiroid daripada pria. Salah satu jenis penyakit tiroid yang paling umum terjadi adalah hipotiroid, yaitu ketidakmampuan tiroid menghasilkan kadar hormon yang cukup untuk mengatur metabolisme.

7. Multiple Sclerosis

Selain lupus, penyakit autoimun lain yang juga lebih sering menyerang wanita ketimbang pria adalah multiple sclerosis. Sebab, menurut penelitian di Johns Hopkins University, jumlah lemak lemak dalam tubuh wanita yang biasanya lebih besar dapat memicu timbulnya berbagai macam peradangan, yang berujung pada penyakit. Selain itu, adanya perbedaan hormon dalam tubuh pria dan wanita juga dapat berkontribusi pada penyakit multiple sclerosis.

Baca juga: Inilah 6 Ciri Miss V Sehat yang Harus Diketahui Wanita

8. Celiac

Lebih dari setengah pengidap penyakit celiac adalah wanita. Inilah yang menjadi alasan mengapa akhirnya celiac masuk dalam daftar penyakit wanita. Celiac adalah penyakit autoimun ketika tubuh menyerang sistem pencernaan. Gejalanya ditandai dengan diare, kembung, gas, dan mulas.

9. Gangguan Makan

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang menjelaskan akar penyebab dari anoreksia, bulimia, dan gangguan makan lainnya. Gangguan ini diduga terjadi karena kombinasi dari faktor tubuh dan lingkungan sosial yang umumnya lebih banyak memengaruhi wanita dibandingkan pria. Selain itu, faktor kondisi psikologis dan masalah dengan bentuk tubuh merupakan beberapa pemicu lain yang dialami oleh kaum hawa.

Itulah 9 penyakit yang lebih sering menyerang wanita ketimbang pria. Selalu terapkan gaya hidup sehat, seperti olahraga teratur, memiliki pola makan sehat, istirahat yang cukup, dan periksakan kesehatan secara rutin. Sekarang, periksa kesehatan rutin bisa dilakukan lewat Halodoc, semudah memesan layanan antar makanan, lho. Jadi, jangan lupa download aplikasinya, ya.

Referensi:
Huffington Post. Diakses pada 2020. 6 Health Conditions Affecting Women More Than Men.
Healthline. Diakses pada 2020. 7 ‘Women’ Diseases That Can Affect Men.
The Healthy. Diakses pada 2020. 15 Serious Disease That Strike Women More Than Men.

Langkah Sederhana Cegah Perforasi Membran Timpani

Langkah Sederhana Cegah Perforasi Membran Timpani

Halodoc, Jakarta – Perforasi membran timpani, atau yang juga dikenal dengan sebutan gendang telinga pecah, adalah robekan pada membran tipis yang memisahkan telinga bagian luar dan dalam. Membran ini disebut membran timpani atau gendang telinga, yang terbuat dari jaringan yang menyerupai kulit. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah perforasi membran timpani atau gendang telinga pecah adalah:

  • Berhati-hati dan lakukan secara perlahan saat membersihkan telinga dengan cotton bud.

  • Hindari melakukan perjalanan dengan pesawat ketika sedang pilek atau flu.

  • Kenakan penutup telinga, kunyahlah permen karet, atau menguaplah saat terjadi perubahan tekanan udara.

  • Hindari menggunakan benda yang tajam untuk membersihkan telinga.

  • Gunakan penutup telinga saat bekerja di lingkungan yang bising.

  • Gunakan pelindung telinga (earplug) jika berada dalam situasi yang berpotensi menyebabkan telinga terpapar suara yang sangat keras.

Baca juga: Apa yang Terjadi Saat Gendang Telinga Pecah?

Kenali Tanda dan Gejalanya

Beberapa tanda dan gejala umum muncul ketika mengalami perforasi membran timpani adalah:

  • Sakit telinga, tetapi cepat reda

  • Keluarnya cairan bening, bernanah, atau berdarah dari telinga.

  • Hilangnya pendengaran.

  • Bunyi di dalam telinga (tinnitus).

  • Sensasi berputar (vertigo).

  • Mual atau muntah (yang dapat disebabkan oleh vertigo).

Perlu diketahui bahwa diagnosis dan perawatan dini dapat mencegah perforasi membran timpani menjadi semakin buruk. Oleh karena itu, segera download aplikasi Halodoc dan bicaralah pada dokter lewat chat, untuk mencegah kondisi serius. Jika dokter menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut, segeralah pergi ke pusat layanan kesehatan terdekat.

Baca juga: Gendang Telinga Pecah, Bahaya atau Tidak?

Penyebab Paling Umum dari Perforasi Membran Timpani

Ada banyak penyebab dari perforasi membran timpani. Namun, beberapa penyebab berikut adalah yang paling umum:

1. Infeksi Telinga Bagian Tengah (Otitis Media)

Infeksi telinga bagian tengah atau otitis media biasanya ditimbulkan oleh akumulasi cairan pada telinga bagian tengah. Tekanan dari cairan tersebutlah yang menyebabkan gendang telinga tersobek.

2. Barotrauma

Barotrauma adalah tekanan pada gendang telinga saat ada tekanan dalam telinga bagian tengah, atau tekanan udara di lingkungan sekitar tidak seimbang. Jika tekanan terlalu berat, gendang telinga dapat tersobek. Barotrauma biasanya terjadi akibat perubahan tekanan udara saat naik pesawat. Namun, ada juga peristiwa lain yang dapat menyebabkan perubahan tekanan secara mendadak, seperti scuba diving dan serangan langsung ke dalam telinga, seperti benturan dari kantung udara mobil.

3. Suara Keras atau Ledakan (Trauma Akustik)

Pajanan suara keras atau ledakan, seperti yang berasal dari eksplosi atau tembakan senjata, atau gelombang suara yang sangat kuat lainnya, dapat menyebabkan sobekan pada gendang telinga.

4. Masuknya Benda Asing ke Dalam telinga

Masuknya benda asing berukuran kecil, seperti kapas atau pin rambut, dapat menusuk atau merobek gendang telinga.

Baca juga: Gendang Telinga Pecah, Bisakah Sembuh Sendiri?

5. Cedera Berat pada Kepala

Cedera berat pada kepala, seperti fraktur tempurung kepala, dapat menyebabkan dislokasi atau kerusakan pada struktur telinga bagian tengah dan telinga bagian dalam, termasuk gendang telinga dan menyebabkan perforasi membran timpani.

Pengobatan untuk Perforasi Membran Timpani

Perforasi membran timpani sebenarnya tidak selalu membutuhkan pengobatan, karena biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu atau beberapa bulan jika telinga selalu kering dan tidak terdapat infeksi. Jika ada gejala sakit atau rasa tidak nyaman, kamu dapat mengkonsumsi penawar rasa sakit biasa, seperti parasetamol atau ibuprofen.

Namun, pemberian obat seperti aspirin pada pengidap perforasi membran timpani yang berusia di bawah 16 tahun tidak disarankan. Selain cara itu, meletakan flanel hangat pada telinga juga dapat membantu mengurangi rasa sakit. Selanjutnya, dokter dapat memberikan resep antibiotik jika perforasi membran timpani disebabkan oleh infeksi atau memiliki risiko menimbulkan infeksi saat masa penyembuhan.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Perforated Eardrum. 
WebMD. Diakses pada 2020. Perforated Eardrum.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Perforated Eardrum.

Wanita Mandiri, Awas 4 Kebiasaan Ini Bisa Berbahaya

Wanita Mandiri, Awas 4 Kebiasaan Ini Bisa Berbahaya

Halodoc, Jakarta – Istilah “serba bisa” memang sangat patut dilekatkan pada sosok wanita mandiri. Bagaimana tidak? Mulai dari mengurus keluarga, bekerja, bersih-bersih hingga angkat-angkat barang berat bisa dilakukan sendiri. Namun, hati-hati, ada beberapa kebiasaan yang bisa berbahaya bagi kesehatan jika dilakukan terus-menerus, lho. Berikut beberapa di antaranya:

1. Menyetir Duduk Kelamaan

Saking mandirinya, wanita bisa bepergian seharian ke mana pun dengan menyetir sendiri, lho. Namun, jalan-jalan di kota besar Negeri ini tak pernah lepas dari macet, sehingga menyetir dengan posisi duduk bisa berlangsung berjam-jam lamanya. Bahaya? Tentu, jika jadi kebiasaan sehari-hari. Menghabiskan waktu lama untuk duduk menyetir kelamaan bisa menyebabkan kenaikan bobot tubuh, apalagi jika kamu tidak mengimbanginya dengan aktivitas fisik dan olahraga rutin. 

Baca juga: Kebiasaan Buruk Ini Picu Penyakit Tipes

Penelitian yang dilakukan oleh kelompok peneliti dari Universitas Leicester, menunjukkan bahwa mengemudi dalam waktu yang lama bisa membuat kekuatan kerja otak melemah dan tingkat kecerdasan menurun. Penelitian itu dilakukan selama lima tahun, terhadap 500.000 orang berusia 37 hingga 73 tahun. Hasilnya, kelompok orang yang mengendarai 2-3 jam per hari cenderung memiliki kekuatan otak yang lebih rendah dan terus menurun, jika dibandingkan dengan kelompok orang yang jarang atau bahkan tidak mengemudi sama sekali. 

Karena selama mengemudi otak tidak berfungsi aktif. Seiring waktu, jika frekuensi mengemudi meningkat, daya kerja otak akan berkurang. Selain itu, menyetir dalam waktu terlalu lama dapat menyebabkan timbulnya rasa sakit di leher, bahu, punggung, dan pinggang. Jika posisi duduk saat mengemudi salah juga dapat membuat postur tubuh terganggu.

2. Kurang Tidur

Kebiasaan ini kerap dimiliki oleh wanita mandiri yang punya segudang kesibukan. Mulai dari bekerja, mengurus anak, berbelanja, dan lain-lain. Segala kesibukan itu akhirnya menyita waktu untuk beristirahat. Padahal, menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Psychiatric Research menunjukkan bahwa kurang tidur bisa membuat tubuh bangun dengan keadaan kurang bugar, karena daya tahan tubuh menurun. 

Tak hanya itu, tidur yang kurang dan tidak berkualitas juga dapat meningkatkan peradangan pada tubuh, yang kemudian meningkatkan berbagai risiko penyakit, termasuk jantung koroner. Dampak buruk lainnya dari kebiasaan kurang tidur adalah melemahnya daya ingat. Hal ini disebutkan dalam sebuah studi yang dimuat dalam Sleep Journal, bahwa tingkat akurasi dalam mengerjakan tugas kantor atau kuliah yang membutuhkan daya ingat bisa menurun hingga 15 persen jika kurang tidur. Hal ini karena tanpa tidur yang cukup, otak akan kesulitan menyimpan data-data penting dalam ingatan.

Baca juga: Latah, Penyakit atau Kebiasaan

Jadi, cukupi waktu tidur dan cobalah untuk mulai meluangkan waktu lebih untuk relaks dan beristirahat. Jika merasa daya tahan tubuh mulai menurun karena kurang tidur, coba bicarakan dengan dokter di aplikasi Halodoc. Dokter biasanya akan menyarankan beberapa tips berguna dan meresepkan vitamin bila perlu. Kalau dokter meresepkan vitamin, kamu bisa langsung memesan vitaminnya lewat aplikasi Halodoc juga, lho. Praktis, kan?

3. Mengangkat Barang Berat

Mengangkat beban yang berlebihan dapat membuat perut menerima tekanan yang berlebihan. Perut yang terus menerus mendapat tekanan dalam jangka panjang bisa memicu terjadinya hernia. Saat mengangkat beban yang terlalu berat, akan menambah tekanan pada dinding abdomen. Jika abdomen diberi tekanan terlalu tinggi dan secara terus menerus, akan membuat lemahnya dinding abdomen dan memicu keluarnya usus dari jalur yang sebenarnya.

Selain hernia, kebiasaan mengangkat barang berat juga bisa memicu timbulnya skoliosis. Hal ini dapat terjadi karena salahnya posisi atau postur tubuh ketika mengangkat beban. Skoliosis biasanya ditandai dengan gejala nyeri pada saat duduk, pada saat berdiri, maupun nyeri dari tulang belakang hingga menjalar ke pinggul, tangan, sampai kaki. Gejala lainnya adalah kaki terasa kebas atau merasa melemah, kemudian ujung saraf menjadi tertekan, hingga terjadinya gangguan buang air kecil maupun besar.

4. Pakai Heels

Beauty is pain, begitu istilahnya. Sepatu cantik dengan hak tinggi memang bisa membuat kaki terlihat lebih langsing dan jenjang, sehingga akan menyempurnakan penampilan. Karena alasan itulah mungkin banyak wanita yang rela memakai sepatu hak tinggi alias high heels, berjam-jam lamanya. Selain masalah nyeri dan pegal-pegal, ternyata ada banyak bahaya penggunaan high heels lainnya yang tanpa disadari mengintai berbagai anggota tubuh, lho.

Baca juga: Kebiasaan Berjalan Kaki Bisa Membantu Menjaga Kesehatan Otak

Semakin tinggi hak sepatu, semakin besar pula efek buruknya. Sebuah studi menunjukkan bahwa hak sepatu stiletto (yang berbentuk tipis dan runcing di bagian bawahnya) setinggi 10 sentimeter, dapat menambah tekanan pada kaki bagian depan hingga 30 persen. Hal itu membuat langkah jadi tak seimbang karena high heels memaksakan kaki berjalan dalam langkah pendek, bukan dengan langkah kaki alami kamu.

Jika dipertahankan dalam jangka panjang, teknik berjalan staccato ini akan merusak tulang dan saraf kaki. Selain itu, sepatu hak tinggi juga akan memaksa pergelangan kaki condong ke depan, yang bisa membatasi aliran darah pada tungkai bawah. Hal ini membuat orang yang menggunakan high heels dalam jangka waktu cukup lama berisiko mengalami varises.

Referensi:
University of Leicester. Diakses pada 2020. Hours of driving and watching TV lower IQ scores.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2020. Sleep and mental health.
US National Library of Medicine, National Institute of Health. Diakses pada 2020. Heavy Loads and Lifting are Risk Factors for Musculoskeletal Injuries in Deployed Female Soldiers.
Huffington Post. Diakses pada 2020. Common Risk of High Heels.

19 Pasien di Indonesia Positif Virus Corona, Ini Faktanya

19 Pasien di Indonesia Positif Virus Corona, Ini Faktanya

Halodoc, Jakarta – Pasien virus corona (korona) di Indonesia terus meningkat. Pada Senin (2/3) lalu, pertama kalinya Presiden Joko Widodo mengumumkan pasien virus corona di Indonesia. Saat itu, presiden mengatakan 2 WNI di Indonesia positif mengidap COVID-19 yang disebabkan oleh virus corona terbaru, SARS-CoV-2. 

Perlahan-lahan kasus virus corona di Indonesia bertambah. Empat hari berselang, Jumat (6/3), jumlah kasus virus corona bertambah dua. Lalu, pada Minggu (8/3), bertambah lagi menjadi dua kasus. Dengan kata lain, hingga Minggu, pasien virus corona di Indonesia berjumlah enam orang. Kasus ini disebut sebagai kasus 1 hingga kasus 6. 

Pada Senin (9/3), kasus virus corona di Indonesia semakin muncul ke permukaan. “Kasus yang terkonfirmasi positif sebanyak 19,” kata Jubir Pemerintah terkait virus corona, Achmad Yurianto, di Istana Kepresidenan, Senin (9/3/2020) pukul 17.45 WIB.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan terdapat 13 pasien tambahan yang positif mengidap COVID-19. Dengan kata lain, pada Senin (9/3), total pasien virus corona di Indonesia mencapai 19 orang.

Nah, berikut ulasan lengkapnya yang Halodoc Himpun dari berbagai sumber. 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Fakta dan Kronologi Kasus Virus Corona 1 sampai 19

19 kasus corona di Indonesia terbagi menjadi klaster Jakarta, Kapal (ABK) Diamond Princess Jepang, dan imported case (di dapat dari luar negeri). Berikut rangkuman singkat mengenai ke-19 pasien positif virus corona di Indonesia:

  • Kasus 1: Perempuan, 31 tahun. Tertular dari WN Jepang saat menghadiri acara di Jakarta. Acara itu diperkirakan dihadiri lebih dari 50 orang. Kasus ini disebut klaster Jakarta. 

  • Kasus 2: Ibu dari Kasus 1, 64 tahun. Tertular anaknya saat dirawat di RS rujukan di Depok, Jawa Barat. Klaster Jakarta. 

  • Kasus 3: Berusia 33 tahun. Pasien termasuk dari 80 orang yang berada di dalam satu acara dan kontak dengan kasus 1. Kasusnya masuk dalam klaster Jakarta. 

  • Kasus 4: Pasien berusia 34 tahun. Termasuk dari 80 orang yang berada di dalam satu acara dan kontak dengan kasus 1. Klaster Jakarta. 

  • Kasus 5: Pasien berusia 55 tahun. Klaster Jakarta.

  • Kasus 6: Berusia 36 tahun. Anak Buah Kapal (ABK) Diamond Princess Jepang yang dievakuasi bersama 68 WNI lainnya dari Yokohama, Jepang. 

  • Kasus 7: Perempuan, berusia 59 tahun. Pasien merupakan imported case (bukan bagian dari klaster manapun). Dirinya baru kembali dari luar negeri dan menunjukkan gejala COVID-19 dan dinyatakan positif. Kondisi (9/3) sakit ringan-sedang, stabil.

  • Kasus 8: Laki-laki, 56 tahun. Pasien adalah suami dari kasus 7 yang tertular darinya. Pasien menggunakan beberapa peralatan, infus, oksigen (9/3). Sebelum kontak dengan 7, pasien 8 sudah sakit, tetapi bukan karena COVID-19. Saat itu, ia mengalami diare dan memiliki riwayat penyakit diabetes. Kondisinya kini sakit sedang mengarah ke berat.

  • Kasus 9: Perempuan, 55 tahun. Pasien COVID-19 ini merupakan imported case, memiliki riwayat ke luar negeri. Kondisi sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 10: Laki-laki, 29 tahun, statusnya WNA. Kasus ini bagian dari klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 1. Kondisi sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 11: Perempuan, 54 tahun, WNA. Bagian dari klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 1. Kondisinya sakit ringan-sedang (9/3)

  • Kasus 12: Laki laki, 31 tahun. Kasusnya masuk dalam klaster Jakarta dan hasil tracing dari kasus 1. Kondisinya sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 13: Perempuan, 16 tahun. Kasusnya bagian dari hasil tracing subklaster kasus 3. 

  • Kasus 14: Laki-laki, 50 tahun. Kasusnya masuk ke dalam imported case. Kondisinya sakit ringan-sedang (9/3).

  • Kasus 15: Perempuan, 43 tahun. Pasien merupakan imported case.

  • Kasus 16: Perempuan, 17 tahun. Bagian dari hasil tracing subklaster kasus 5. 

  • Kasus 17: Laki-laki, 56 tahun, kasus imported case

  • Kasus 18: Laki-laki, 55 tahun, kasus imported case.

  • Kasus 19: Laki-laki, 40 tahun, kasus imported case.

Dari ke 19 kasus tersebut, usia pasien tertua adalah 64 tahun (kasus 2), dan termuda 16 tahun (kasus 13). Pasien dengan rentang usia 5060 tahun berjumlah 8 orang. Sementara pasien yang berusia 3040 tahun berjumlah 5 orang. Sedangkan 4150 tahun sebanyak 2 orang. Usia 2030 sebanyak 1 orang, dan usia 1620 tahun berjumlah 2 orang.

Sampai saat ini belum ada informasi lengkap mengenai rumah sakit yang merawat ke-13 pasien baru. 

Baca juga: Ini Daftar 132 Rumah Sakit Rujukan untuk Virus Corona

Imported case, dari Negara Mana?

Dari total 19 pasien yang positif mengidap COVID-19, 7 di antaranya merupakan  imported case, yaitu:

  • Kasus 7: Perempuan 59 tahun

  • Kasus 9: Perempuan 55 tahun

  • Kasus 14: Pria 50 tahun

  • Kasus 15: Perempuan 43 tahun

  • Kasus 17: Pria 56 tahun

  • Kasus 18: Pria 55 tahun

  • Kasus 19: Pria 40 tahun

Menurut Yuri dalam Kemenkes – Sehat Negeriku! yang bersangkutan memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara yang terjangkit COVID-19. Setelah kembali ke Indonesia, beberapa hari kemudian menunjukkan gejala yang mengarah ke penyakit COVID-19.

Pertanyaannya, dari negara mana saja ke-7 pasien tersebut tertular virus corona? 

“Sudah (ditelusuri) dari 3 negara. Yang pasti dari negara yang terinfeksi,” ungkap Yuri. Namun, ia tidak menyebutkan asal 3 negara tersebut. Ia hanya memastikan 3 negara bukan dari Italia, Korea Selatan, dan Jepang yang menjadi episentrum baru virus corona Wuhan. 

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

Fokus pada Tracing dan Contact Tracking

Penemuan kasus 3 dan 4 ini merupakan hasil tracking terhadap kasus 1, begitu pula kasus yang masuk ke dalam klaster Jakarta. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta bersama Kepolisian RI dan Badan Intelijen Negara (BIN), telah mengidentifikasi 80 orang yang berada dalam sebuah acara bersama pasien (kasus) 1 di Jakarta. 

Menurut pemerintah, upaya tracing dan contact tracking adalah langkah untuk mempercepat penelusuran dan penemuan kasus virus corona di Indonesia. Upaya ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan dan meyakinkan, guna mendapatkan kasus positif maupun negatif dalam konteks kedaruratan masyarakat.

Dengan kata lain, upaya pemerintah untuk mengatasi virus corona di Indonesia, bukan hanya dalam konteks protokol perawatan pasien saja. 

Menurut Kemenkes dalam Sehat Negeriku!, keberhasilan pengendalian penyakit ini adalah bagaimana memutuskan rantai penularan, dengan cara melakukan isolasi terhadap kasus yang positif. 

“Bagi kita sekali lagi saya tekankan, status positif atau bukan itu tidak banyak berpengaruh pada rawatan pasiennya, tetapi cenderung pada antisipasi penularannya. Tentunya kita harus melakukan contact tracking, sehingga dapat dengan cepat mencari, menemukan, dan mengisolasi. Tujuannya agar tidak ada sumber penularan lagi di masyarakat yang semakin membuat tidak terkendalinya sebaran dari penyakit ini. Ini hal yang penting,” jelas Achmad Yurianto

Yuk, pastikan sakitmu bukan karena virus corona! Andaikan dirimu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter. 

Kamu bisa bertanya langsung pada dokter lewat fitur Chat dan Voice/Video Call atau buat janji dengan dokter di rumah sakit rujukan COVID-19 yang dekat tempat tinggalmu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:

Detik.com. Diakses pada 2020. 7 Pasien Positif Corona di RI Tertular dari 3 Negara Berbeda.
Detik.com. Diakses pada 2020. 19 Pasien Positif Corona di Indonesia, 7 Kasus Tertular di Luar Negeri.
Detik.com. Diakses pada 2020. Melonjak! Pasien Positif Corona di Wilayah RI Jadi 19 Orang.
Kementerian Kesehatan RI . Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. Pasien Positif COVID-19 Menjadi 19 orang, Kemenkes Fokus pada Tracing dan Tracking Contact.
Kementerian Kesehatan RI. Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. WNI Positif COVID-19 Bertambah 2 Orang, Total 6 Orang.
Kementerian Kesehatan RI. Sehat Negeriku!. Diakses pada 2020. Pasien Positif COVID-19 Bertambah 2 Orang.
Kumparan.com. Diakses pada 202Update Corona: Pola Penularan COVID-19 ke 19 Pasien di Indonesia.
Kompas.com. Diakses pada 2020. Jumlah Bertambah, 19 Pasien di Indonesia Positif Virus Corona.