Sering Berenang Bisa Sebabkan Otitis Eksterna?

Sering Berenang Bisa Sebabkan Otitis Eksterna?

Halodoc, Jakarta – Berenang menjadi jenis olahraga yang menyenangkan. Tidak hanya menyehatkan, bermain di air juga bisa membantu meningkatkan mood alias suasana hati menjadi lebih baik. Namun di balik sederet manfaatnya, berenang ternyata juga bisa meningkatkan risiko terjadinya otitis eksterna. Penyakit ini rentan menyerang perenang atau orang yang sering berolahraga air. 

Saat berenang, ada risiko air masuk ke dalam telinga dan menyebabkan peradangan. Hal itu yang kemudian menjadi penyebab otitis eksterna. Peradangan terjadi pada daun telinga atau liang telinga, yaitu saluran dari lubang telinga sampai gendang telinga. Otitis eksterna sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Biar lebih jelas, simak penjelasan seputar penyakit otitis eksterna akibat berenang pada artikel ini!

Baca juga: 4 Hal Ini Terjadi pada Telinga yang Terinfeksi Bakteri

Penyebab dan Komplikasi Otitis Eksterna

Saat berenang, risiko air masuk ke telinga menjadi lebih besar. Hal itu kemudian bisa memicu pertumbuhan bakteri dan jamur yang pada akhirnya bisa berujung pada otitis eksterna. Penyakit ini umumnya terjadi karena infeksi bakteri Staphylococcus aureus atau Pseudomonas aeruginosa. Infeksi bakteri kemudian akan mulai menunjukkan gejala yang ringan. 

Salah satu gejala khas dari otitis eksterna adalah keluar cairan dari telinga. Namun, gejala awalnya mungkin akan bersifat ringan dan tidak terlalu disadari, seperti telinga kemerahan, gatal di saluran telinga, telinga terasa penuh, dan tidak nyaman. Otitis eksterna harus segera ditangani untuk menghindari infeksi menjadi lebih buruk. 

Pada kondisi yang lebih berat, otitis eksterna menyebabkan liang telinga menjadi semakin merah dan muncul rasa gatal yang tak tertahankan. Selain itu, rasa sakit yang lebih parah dibanding otitis eksterna ringan. Pada kondisi ini, cairan yang keluar pun akan lebih banyak dan mungkin bercampur dengan nanah. Pada tahap yang paling parah, penyakit ini bisa mengakibatkan gejala yang lebih luas, mulai dari nyeri hebat yang menjalar ke wajah, leher, dan kepala, serta pembengkakan daun telinga. 

Baca juga: Benarkah Perenang Rentan Terserang Otitis Eksterna?

Otitis eksterna yang tidak ditangani segera bisa meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Ada berbagai jenis komplikasi yang bisa muncul saat otitis eksterna sudah parah, di antaranya: 

  • Infeksi Jangka Panjang 

Infeksi yang menjadi penyebab utama penyakit ini bisa semakin parah jika tidak ditangani. Otitis eksterna yang tidak diobati bisa bertahan lama dan menyebabkan infeksi berkelanjutan serta masuk dalam tahap kronis. Biasanya, infeksi jangka panjang pada otitis eksterna terjadi karena jenis bakteri yang langka, alergi, atau kombinasi keduanya. 

  • Infeksi Jaringan Dalam

Otitis eksterna adalah infeksi yang terjadi pada jaringan luar telinga. Jika tidak ditangani segera, kondisi ini bisa berkembang dan menyebabkan komplikasi hingga ke jaringan dalam telinga. Komplikasi parah yang bisa terjadi karena penyakit ini adalah infeksi jaringan dalam alias selulitis yang terjadi karena infeksi menyebar sampai ke lapisan dalam kulit. Namun, komplikasi yang satu ini relatif jarang terjadi.

  • Kehilangan Pendengaran  

Terkadang, kondisi ini akan menyebabkan pengidapnya kehilangan pendengaran yang bersifat sementara. Maka dari itu, perlu untuk segera menangani otitis eksterna agar komplikasi ini tidak semakin buruk dan pendengaran kembali normal.

Baca juga: Telinga Berdenging Bisa Jadi Tanda Infeksi Telinga Tengah

Cari tahu lebih lanjut seputar otitis eksterna dan penyakit lain yang bisa terjadi akibat berenang dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Swimmer’s ear.
Web MD. Diakses pada 2020. What Is Swimmer’s Ear?
Kids Health. Diakses pada 2020. Swimmer’s Ear (Otitis Externa).

 

Awas, Kurang Minum Air Putih Bisa Sebabkan Gangguan Ginjal

Awas, Kurang Minum Air Putih Bisa Sebabkan Gangguan Ginjal

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Kidney Foundation, disebutkan kalau konsumsi air sangat penting untuk membantu darah membawa nutrisi penting dan bersirkulasi di ginjal

Ketika kamu mengalami dehidrasi maka sistem sirkulasi akan menjadi terhambat. Dehidrasi ringan dapat membuat kamu merasa lelah, sedangkan dehidrasi parah dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Konsumsi air putih menjadi sangat penting, terutama buat kamu yang sedang bekerja dan aktif berolahraga. Informasi selengkapnya mengenai dehidrasi dan konsumsi air putih baca di bawah ini!

Akibat-Akibat Dehidrasi

Dehidrasi dapat menyebabkan penumpukan limbah dan asam dalam tubuh serta menyumbat ginjal dengan protein otot (mioglobin). Semua ini bisa melukai ginjal. Dehidrasi juga dapat berkontribusi pada pembentukan batu ginjal dan infeksi saluran kemih yang mengakibatkan kerusakan ginjal jika tidak ditangani dengan cepat. 

Tanda-tanda dehidrasi bisa dilihat dari warna urine. Jika warnanya kuning gelap, itu berarti kamu membutuhkan lebih banyak air. Namun, jika sangat gelap, maka kamu harus memeriksakan diri ke dokter untuk melihat apakah sesuatu seperti obat tertentu mengubah warna urine tersebut, atau malah sedang mengalami dehidrasi.

Baca juga: Hipertensi Bisa Sebabkan Gagal Ginjal Kronis

Sebenarnya tidak ada aturan pasti tentang jumlah air yang harus diminum setiap orang. Kita semua memiliki kebutuhan air yang berbeda tergantung pada perbedaan usia, iklim, intensitas olahraga, serta keadaan kehamilan, menyusui, dan penyakit tertentu. 

Jika kamu mengalami gagal ginjal atau fungsi ginjal rendah, maka kamu mungkin perlu membatasi asupan cairan. Butuh rekomendasi ahli medis mengenai hal ini tanyakan langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orangtua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Pentingnya Menjaga Kesehatan Ginjal

Menjaga kesehatan ginjal berarti meminum jumlah air yang tepat untukmu. Ada kesalahpahaman yang umum terjadi ketika orang-orang diharuskan untuk minum delapan gelas air per hari tanpa mempertimbangkan kebutuhannya. 

Tadi sudah disinggung kalau banyaknya air yang dibutuhkan didasarkan pada perbedaan usia, iklim, intensitas olahraga, serta keadaan kehamilan, menyusui, dan penyakit. Berikut beberapa informasi mengenai anjuran dan pentingnya mengonsumsi cukup air demi menjaga kesehatan ginjal.

  1. The Institute of Medicine merekomendasikan laki-laki untuk mengonsumsi 13 gelas air putih sedangkan perempuan 9 gelas.

  2. Jumlah ini harus lebih sedikit jika ternyata kamu memiliki gagal ginjal (penyakit ginjal tahap akhir). Ketika gagal ginjal, orang tidak dapat mengeluarkan cukup air, bahkan tidak ada sama sekali. Bagi mereka yang menerima perawatan dialisis, air sebenarnya harus sangat dibatasi.

  3. Bijaksana dalam mengonsumsi air juga berarti minum cukup air atau minuman sehat lain. Minuman sehat lain, seperti jus tanpa pemanis atau susu rendah lemak untuk memuaskan dahaga dan menjaga air seni tetap kuning atau tidak berwarna pekat. 

Baca juga: Ternyata Ini Manfaat Puasa untuk Pengidap Hipertensi

  1. Ketika urine berwarna kuning gelap, ini menunjukkan bahwa kamu mengalami dehidrasi. Untuk menanganinya kamu harus mengonsumsi setidaknya 1,5 air.

  2. Mengonsumsi cukup air dapat membantu melarutkan antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih. Minum cukup air juga membantu menghasilkan lebih banyak urine, yang membantu menghilangkan bakteri penyebab infeksi.

Referensi:

National Kidney Foundation. Diakses pada 2020. Can Dehydration Affect Your Kidneys?
National Kidney Foundation. Diakses pada 2020. 6 Tips To Be “Water Wise” for Healthy Kidneys.

Menyerang Tulang Anak, Ini Penanganan Osteosarcoma

Menyerang Tulang Anak, Ini Penanganan Osteosarcoma

Halodoc, Jakarta – Osteosarcoma merupakan jenis kanker tulang yang sering terjadi pada anak-anak. Pasalnya, penyakit ini menyerang tulang-tulang yang tengah mengalami pertumbuhan cepat. Kanker osteosarcoma menyerang tulang-tulang berukuran besar dan memiliki tingkat pertumbuhan cepat. Karena itu, penyakit ini rentan menyerang pada masa pertumbuhan, yaitu anak-anak dan remaja di bawah usia 20 tahun. 

Pada anak-anak dan remaja, periode pertumbuhan tulang berada pada fase paling cepat. Meski begitu, kondisi ini ternyata juga bisa menyerang orang dewasa. Kabar buruknya, kanker tulang ini lebih rentan menyerang anak laki-laki dibanding perempuan. Kanker ini bersifat agresif, tetapi dengan pengobatan yang tepat osteosarcoma umumnya bisa disembuhkan.

Baca juga: Ketahui Faktor yang Meningkatkan Risiko Terkena Osteosarcoma

Gejala dan Penanganan Osteosarcoma 

Kanker tulang osteosarcoma bersifat agresif, tetapi bisa disembuhkan. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tetapi pria berusia 0–24 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteosarcoma. Ada beberapa cara penanganan yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit ini. 

Ada beberapa gejala yang bisa muncul sebagai tanda penyakit ini. Osteosarcoma sering ditandai dengan gejala berupa rasa nyeri dan sakit pada tulang atau persendian sehingga menyebabkan terbatasnya gerakan tubuh. Penyakit ini juga memicu munculnya pembengkakan atau benjolan di sekitar tulang atau pada ujung tulang yang sakit ketika disentuh. 

Orang yang mengidap penyakit ini juga cenderung memiliki masalah dengan tulang kaki dan cara berjalan. Pengidap osteosarcoma mungkin berjalan pincang jika benjolan tumor menyerang kaki. Tulang yang terserang kanker mungkin juga akan mengalami retak atau patah tulang akibat pergerakan rutin. 

Kanker ini juga menyebabkan rasa sakit saat mengangkat sesuatu, umumnya terjadi jika osteosarcoma menyerang tulang di bagian tangan. Kanker bisa terjadi di mana saja, tetapi biasanya osteosarcoma menyerang tulang paha, tulang kering, dan tulang lutut. Selain itu, tumor juga bisa ditemukan pada tulang bahu, tulang panggul, bahkan tulang rahang. 

Baca juga: Bisakah Osteosarcoma Disembuhkan Total?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Mengobati kanker osteosarcoma dilakukan tergantung pada tingkat keparahan dan lokasi ditemukannya kanker. Ada berbagai tahap atau pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kanker tulang osteosarcoma, di antaranya: 

  • Pembedahan

Osteosarcoma ditandai dengan tumor yang menyebabkan munculnya benjolan pada bagian tubuh yang diserang. Salah satu cara pengobatan yang bisa dilakukan adalah pembedahan. Cara ini dilakukan untuk mengangkat tumor penyebab penyakit. 

  • Radiasi dan Kemoterapi 

Kanker osteosarcoma juga ditangani dengan terapi radiasi dan kemoterapi. Umumnya, kedua cara ini akan dilakukan sebelum pembedahan atau pengangkatan tumor. Terapi radiasi dan kemoterapi dilakukan untuk membunuh sel kanker yang menyerang tubuh. 

Terapi radiasi dilakukan dengan alat bantu berupa pancaran sinar-X. Paparan sinar-X digunakan untuk mengatasi sel kanker pada tubuh. Sementara kemoterapi menggunakan obat-obatan. Pengidap kanker osteosarcoma akan diminta untuk mengonsumsi jenis obat-obatan tertentu untuk membunuh sel kanker. 

  • Operasi Pengangkatan Tulang dan Amputasi

Selain terapi obat dan pengangkatan tumor, kanker osteosarcoma juga ditangani dengan operasi pengangkatan tulang. Tindakan ini dilakukan jika belum terjadi penyebaran kanker ke luar tulang atau kanker baru menyebar di jaringan sekitar tulang.

Selain itu, osteosarcoma mungkin juga harus diatasi dengan amputasi. Biasanya, tindakan ini dilakukan Jika kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain. Amputasi dilakukan jika kanker sudah menyebar hingga ke saraf, pembuluh darah, dan kulit. 

Baca juga: Penanganan yang Bisa Dilakukan pada Pengidap Osteosarcoma

Cari tahu lebih lanjut seputar kanker tulang osteosarcoma dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja tanpa ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:

World Health Organization. Diakses pada 2020. Osteosarcoma. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Bone Diseasescer.
Healthline. Diakses pada 2020. Osteosarcoma. 
WebMD. Diakses pada 2020. What Is Osteosarcoma?

Gejala dan Perawatan Mesothelioma yang Dapat Menyerang Perut

Gejala dan Perawatan Mesothelioma yang Dapat Menyerang Perut

Halodoc, Jakarta – Mesothelioma ganas adalah jenis kanker yang terjadi pada lapisan tipis jaringan yang menutupi sebagian besar organ dalam. Mesothelioma merupakan bentuk kanker yang agresif dan mematikan. 

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Health Service, disebutkan kalau mesothelioma kerap memengaruhi lapisan paru-paru (pleural mesothelioma), dan juga lapisan perut (mesothelioma peritoneum), jantung atau testis. Selengkapnya mengenai mesothelioma bisa dibaca di bawah ini!

Bagaimana Mesothelioma Menyerang Perut

Tadi sudah disebutkan kalau mesothelioma bisa menyerang perut. Ketika menyerang perut, beberapa gejala yang terjadi adalah sakit perut, pembengkakan perut, mual, dan penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan. 

Mesothelioma hampir selalu disebabkan oleh paparan asbes, yaitu sekelompok mineral yang terbuat dari serat mikroskopis yang dulunya banyak digunakan dalam konstruksi. Serat-serat kecil ini dapat dengan mudah masuk ke paru-paru, tersangkut, merusak paru-paru seiring dengan berjalannya waktu.

Baca juga: 9 Gejala Kanker Lambung yang Perlu Diwaspadai

Jika dokter mencurigai kalau kamu mengidap mesothelioma, maka pengidapnya perlu dilakukan pemeriksaan dan tes sebagai berikut: 

  1. Rontgen dada atau perut.

  2. CT scan, sejumlah gambar X-ray diambil untuk membuat gambar detail dari bagian dalam tubuh.

  3. Drainase cairan, jika ada penumpukan cairan di sekitar paru-paru atau di perut, sampel dapat diangkat menggunakan jarum yang dimasukkan melalui kulit, sehingga cairan dapat dianalisis

  4. Torakoskopi atau laparoskopi, di mana bagian dalam dada atau perut diperiksa dengan kamera panjang dan tipis yang dimasukkan melalui sayatan kecil (sayatan) di bawah pengaruh sedasi atau anestesi, sampel jaringan (biopsi) dapat diangkat sehingga dapat dianalisis

Tes-tes ini dapat membantu mendiagnosis mesothelioma dan menunjukkan sejauh mana penyebarannya. Informasi selengkapnya mengenai mesothelioma bisa ditanyakan langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Perawatan untuk Mesothelioma

Perawatan terbaik untuk mesothelioma tergantung pada beberapa faktor, termasuk seberapa jauh kanker telah menyebar dan kesehatan pengidapnya secara menyeluruh. Oleh karena mesothelioma sering didiagnosis setelah stadium sudah lanjut, pengobatan biasanya difokuskan pada mengendalikan gejala dan memperpanjang hidup selama mungkin. Perawatan ini termasuk:

Baca juga: Kebiasaan Merokok Bisa Sebabkan Kanker Lambung

  1. Kemoterapi 

Ini adalah pengobatan utama untuk mesothelioma dan melibatkan penggunaan obat untuk membantu mengecilkan kanker.

  1. Radioterapi 

Melibatkan penggunaan radiasi energi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker; dapat digunakan untuk memperlambat kanker dan mengendalikannya.

  1. Operasi 

Operasi dilakukan untuk mengangkat area kanker dapat dilakukan jika mesothelioma terdeteksi pada tahap yang sangat awal, meskipun tidak jelas apakah operasi membantu atau tidak.

Pengidapnya mungkin juga akan menjalani perawatan untuk gejala individual demi membantu kemajuan kesehatan yang lebih signifikan. Misalnya, mengalirkan cairan secara teratur dari dada, sehingga dapat membantu jalannya pernapasan serta pemberian obat penghilang rasa sakit yang kuat demi membantu meringankan rasa sakit tersebut.

Kadang-kadang prosedur dilakukan untuk menghentikan cairan kembali lagi dengan membuat bagian luar paru-paru menempel ke bagian dalam dada (pleurodesis), atau tabung yang diletakkan di dada untuk mengalirkan cairan secara teratur di rumah.

Adakah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko mesothelioma? Tentu saja ada, berikut ini faktor-faktor tersebut: 

  1. Riwayat pribadi paparan asbes

Jika kamu telah terpapar langsung dengan serat asbes di tempat kerja atau di rumah, risiko mesothelioma dapat sangat meningkat.

  1. Tinggal bersama seseorang yang bekerja dengan asbes

Orang yang terpapar asbes dapat membawa serat ke rumah pada kulit dan pakaian mereka. Paparan serat-serat ini selama bertahun-tahun dapat menempatkan orang lain di rumah dengan risiko mesothelioma. Orang yang bekerja dengan asbes tingkat tinggi dapat mengurangi risiko membawa pulang serat asbes dengan mandi dan berganti pakaian sebelum meninggalkan pekerjaan.

  1. Riwayat keluarga mesothelioma

Jika orangtua, saudara kandung atau anak mengidap mesothelioma, kamu mungkin memiliki peningkatan risiko penyakit ini.

  1. Terapi radiasi ke dada

Jika kamu menjalani terapi radiasi untuk kanker di dada kemungkinan besar kamu memiliki risiko mengidap mesothelioma.

Referensi:

National Health Service. Diakses pada 2020. Mesothelioma.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Mesothelioma.

Kasusnya Meningkat, Ini 6 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona

Kasusnya Meningkat, Ini 6 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona

Halodoc, Jakarta – Pada Senin (9/3), kasus virus corona di Indonesia terus bertambah. Kini kasus yang terkonfirmasi positif virus corona penyebab COVID-19 sebanyak 19 orang. Ke-19 pasien tersebut terbagi menjadi klaster Jakarta, Anak Buah Kapal (ABK) Diamond Princess Jepang, dan imported case (di dapat dari luar negeri). 

Pertanyaannya, bagaimana sih cara mencegah virus corona? Sayangnya sampai saat ini vaksin untuk mencegah virus misterius ini belum ditemukan. Obat-obatan yang digunakan hanya ditujukan untuk meredakan gejala. Artinya, mau tak mau kita mesti mencegah virus ini sedari awal. Bagaimana caranya? 

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, terus mengingatkan agar masyarakat menjaga dan memperkuat sistem imun atau kekebalan tubuh. Masih bingung mencari caranya? Berikut tips memperkuat sistem imun untuk melawan virus corona

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

1. Rutin Berolahraga

Keistimewaan olahraga amat beragam, salah satunya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Enggak percaya? Menurut ahli di National Institutes of Health – Medlineplus, olahraga bisa merangsang kinerja antibodi dan sel-sel darah putih. Sel darah putih merupakan sel kekebalan tubuh yang melawan berbagai penyakit.

Melalui olahraga juga sel darah putih bisa bersirkulasi lebih cepat. Alhasil, sel-sel tersebut bisa lebih awal untuk mendeteksi penyakit. Menariknya lagi, olahraga juga bisa membantu mengeluarkan bakteri dari paru-paru dan saluran pernapasan. Kondisi inilah yang bisa mengurangi risiko terjangkit flu atau penyakit lainnya. 

Bagaimana dengan intensitasnya? Menurut anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam Physical Activity and Adults, orang dewasa (18–64) harus melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik aerobik intensitas sedang dalam satu minggu. Bisa juga 75 menit aktivitas fisik aerobik intensitas tinggi dalam satu minggu. 

2. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Caranya dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan memantau berat badan secara teratur, dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

3. Makanan Penunjang Sistem Imun

Cara memperkuat sistem imun juga bisa melalui makanan-makanan yang baik bagi sistem kekebalan tubuh. Contohnya, brokoli dan bayam. Brokoli kaya serat, antioksidan, vitamin A, C, dan E. Kandungan nutrisi inilah yang bisa memperkuat sistem imun tubuh. 

Sedangkan bayam hampir serupa. Sayuran hijau ini kaya antioksidan, beta karoten, vitamin C, dan vitamin A. Nutrisi ini juga dibutuhkan tubuh untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Selain bayam dan brokoli, masih ada makanan lainnya yang bisa kita konsumsi. Contohnya, bawang putih, kunyit, buah-buahan (jeruk, lemon, kiwi, beri, jambu, hingga pepaya), makanan laut (ikan, kerang, dan tiram), hingga yoghurt. 

4. Istirahat yang Cukup

Tidur malam yang berkualitas merupakan cara tersimpel untuk memperkuat sistem imun. Menurut National Sleep Foundation, orang dewasa setidaknya membutuhkan tidur selama 7–9 jam tiap harinya. 

Ingat, tanpa tanpa tidur yang cukup tubuh tidak bisa memproduksi sitokin dengan jumlah yang banyak. Padahal, sitokin merupakan sejenis protein untuk melewan infeksi dan peradangan yang secara efektif menciptakan respons imun. Nah, sitokin ini diproduksi dan dilepaskan selama kita tertidur.

Baca juga: Virus Corona Masuk ke Indonesia, 2 Orang Positif di Depok!

Istirahat yang cukup juga bisa memupuk produksi Sel T di dalam tubuh. Sel T merupakan kelompok sel kekebalan tubuh yang berperan penting dalam sistem imun terhadap virus. Sel T akan menyerang dan menghancurkan sel pembawa virus. Di samping itu, tidur yang berkualitas juga bisa meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh terhadap ancaman penyakit. 

Nah, yakin masih mau begadang? Awas, melemahnya sistem imun jadi taruhannya. 

5. Kelola Stres dengan Baik

Cara memperkuat sistem imun juga bisa melalui tips ini. Ingat, stres bisa memicu tubuh untuk terus memproduksi hormon kortisol. Tingginya hormon kortisol dalam tubuh bisa membuat sistem imun melemah. Oleh sebab itu, ketika stres menyerang, cobalah kelolanya dengan baik baik.

Kamu bisa kok untuk meluangkan waktu melakukan hobi, aktif bersosialisasi, melakukan teknik relaksasi, atau olahraga. Jangan salah, olahraga juga bisa memperlambat pelepasan hormon stres lho. 

6. Hindari atau Jangan Merokok

Mau rokok nikotin atau elektronik, baik perokok pasif maupun aktif, terpapar nikotin amat merugikan bagi sistem kekebalan tubuh. Nikotin bisa meningkatkan kadar kortisol (hormon stres) yang mengurangi pembentukan antibodi sel B dan respons antigen sel T (kelompok sel dalam sistem imun tubuh). 

Nah, sudah tahu kan cara memperkuat sistem imun untuk menangkal virus corona penyebab COVID-19. Bagaimana, tertarik untuk mencobanya? 

Lampu Kuning di Usia 40 ke Atas

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, ada dua kelompok yang sangat rentan terhadap serangan virus corona terbaru, SARS-CoV-2. Pertama, mereka yang memiliki penyakit kronis, seperti jantung, diabetes, dan paru-paru. Kedua, mereka yang masuk dalam kategori lansia. Apa sebabnya? 

Lansia di sini sangat berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Singkatnya, semakin usia bertambah tua, sistem kekebalan tubuh pun semakin tergerus. 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Sistem imun seseorang, bahkan bisa saja menurun lebih cepat dari semestinya. Tentunya hal ini disebabkan oleh pelbagai faktor. Ketika seseorang berada di usia 40 tahun ke atas, sistem kekebalan tubuh yang menua semakin tak mampu untuk menangkal penyakit. 

Sistem kekebalan tubuh ini hanya mampu bertahan dari penyakit yang sudah menyerang. Contohnya, penelitian dari Austria menemukan bahwa efektivitas anti-tetanus akan menurun sejak usia 40 tahun. Di usia 60 tahun pun, 16 persen dari mereka yang divaksinasi, tak lagi terlindungi.

Kata ahli dari Imperial College, London, Inggris, setelah usia mencapai 65 tahun, seseorang tidak mempunyai berbagai jenis sel yang dibutuhkan untuk melawan infeksi baru, sebab kualitas sel yang dimilikinya telah menurun. 

Baca juga: Benarkah Sistem Kekebalan Tubuh Wanita Lebih Rendah Ketimbang Pria?

Sel di sini contohnya naive T-Cell (kelompok sel kekebalan). Biasanya, sel ini akan berkeliling dan memberi peringatan ketika mereka menemukan infeksi. Namun, ketika sel telah menua, sel yang akan terbentuk semakin sedikit. Kok bisa?

Nah, hal ini disebabkan karena kelenjar kecil di belakang tulang dada (thymus) tempat mereka berkembang, telah menyusut. Inilah yang membuat  berkurangnya sistem ketahanan tubuh. Singkatnya, sistem imun jadi enggak efisien, terutama menghadapi virus baru seperti virus corona yang tengah mewabah. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa bertanya langsung pada dokter lewat fitur Chat dan Voice/Video Call atau buat janji dengan dokter di rumah sakit rujukan COVID-19 yang dekat tempat tinggalmu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
CDC. Diakses pada 2020. People at Risk for Serious Illness from COVID-19.
Healthline. Diakses pada 2020. 15 Foods That Boost the Immune System.
National Sleep Foundation. Diakses pada 2020. National Sleep Foundation Recommends New Sleep Times.
National Sleep Foundation. Diakses pada 2020. How Sleep Affects Your Immunity.
National Institutes of Health – Medlineplus. Diakses pada 2020. Exercise and immunity.
Psychology Today. Diakses pada 2020. How You Can Use Sleep to Fight Back Against Coronavirus.
WHO. Diakses pada 2020. Physical Activity and Adults.

 

KLB Demam Berdarah, Mulai Langkah Pencegahan Sekarang

KLB Demam Berdarah, Mulai Langkah Pencegahan Sekarang

Halodoc, Jakarta – Di tengah maraknya pemberitaan penyakit yang diakibatkan oleh virus corona, masih ada penyakit yang lebih berbahaya dan perlu diwaspadai yaitu demam berdarah dengue (DBD). Bagaimana tidak berbahaya, DBD telah lama menjangkiti Indonesia dan terbukti mengancam jiwa manusia. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut ada sebanyak 16.099 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia, lebih banyak dari kasus corona yang hingga saat ini tercatat 19 pengidap. Di beberapa provinsi masuk kategori zona merah karena memiliki lebih dari 500 kasus DBD, termasuk di DKI Jakarta. 

Sembari tetap berwaspada akan virus corona, sebaiknya tingkatkan pula kewaspadaan terhadap penyakit DBD. Caranya adalah dengan melakukan beberapa tindakan pencegahan berikut!

Baca juga: 5 Gejala DBD yang Tak Boleh Diabaikan

Mencegah DBD dengan Kebiasaan Sehari-hari

Perlu kamu ketahui bahwa tidak ada vaksin yang dapat melindungi kamu dari demam berdarah. Kamu hanya bisa menghindari gigitan nyamuk untuk mencegahnya. Sementara, siapapun yang tinggal di lingkungan rumah yang kurang bersih atau melakukan perjalanan ke daerah berisiko dapat mengalami penyakit DBD. Namun, kamu bisa menggunakan sejumlah cara untuk menghindari gigitan nyamuk penyebab DBD.

  • Pakaian: Kurangi area kulit yang terpapar dengan mengenakan celana panjang, baju lengan panjang, dan kaus kaki, masukkan kaki celana dalam sepatu atau kaus kaki, dan kenakan topi. 

  • Gunakan losion atau semprotan anti-nyamuk: Gunakan penolak nyamuk dengan konsentrasi dietiltoluamid (DEET) setidaknya 10 persen, atau konsentrasi yang lebih tinggi untuk paparan yang  lebih lama. Hindari menggunakan DEET pada anak kecil. 

  • Perangkap dan jaring nyamuk: Jaring yang dirawat dengan insektisida lebih efektif, jika tidak nyamuk dapat menggigit jaring jika orang tersebut berdiri di sebelahnya. Insektisida akan membunuh nyamuk dan serangga lainnya dan itu akan mengusir serangga memasuki ruangan.

  • Tutup pintu dengan layar jendela: Hambat jalur masuk nyamuk secara struktural, seperti layar atau kelambu untuk mengusir nyamuk. 

  • Hindari aroma yang disukai nyamuk: Sabun dan parfum beraroma wangi dapat menarik nyamuk.

  • Jangan biarkan air tergenang: Nyamuk aedes berkembang biak di air yang bersih dan tergenang. Periksa dan keluarkan air yang tergenang untuk membantu mengurangi risiko. 

Baca juga: Hati-Hati, Kenali Gejala Demam Berdarah

Untuk mengurangi risiko nyamuk berkembang biak di air yang tergenang: 

  • Balikkan posisi ember dan kaleng penyiraman dan simpan di bawah perlindungan agar air tidak menumpuk.

  • Singkirkan air berlebih dari piring pot tanaman.

  • Gosok wadah untuk menghilangkan telur nyamuk.

  • Longgarkan tanah dari tanaman pot untuk mencegah genangan air terbentuk di permukaan.

  • Pastikan saluran pembuahan scupper tidak terhalang dan jangan letakkan tanaman pot dan benda lain di atasnya.

  • Gunakan perangkap selokan yang tidak berlubang, pasang katup anti-nyamuk, dan tutup semua perangkap yang jarang digunakan. 

  • Jangan letakkan wadah di air conditioner (AC).

  • Ganti air dalam vas bunga setiap hari dan gosok dan bilas bagian dalam vas.

  • Mencegah daun gugur menghalangi apapun yang dapat menyebabkan penumpukan genangan air.

  • Saat berkemah atau piknik, pilih area yang jauh dari air tenang. 

Pada dasarnya, untuk mengurangi populasi nyamuk, singkirkan tempat nyamuk berkembang biak. Ini termasuk ban bekas, kaleng, atau pot bunga yang dapat menampung air. Ganti air secara berkala di kandang hewan peliharaan, terutama yang diletakkan di luar ruangan.

Baca juga: Lakukan Hal Ini untuk Mengobati Gejala Demam Berdarah

Jika seseorang di rumah kamu mengalami demam berdarah, waspadai upaya melindungi diri kamu dan anggota keluarga lain dari nyamuk. Nyamuk yang menggigit anggota keluarga yang terinfeksi dapat menyebarkan infeksi ke orang lain di rumah kamu. Jangan lupa untuk segera membicarakan penyakit DBD yang sedang dialami pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tanpa perlu khawatir, dokter pada aplikasi Halodoc dapat dihubungi kapan saja dan dimana saja. Yuk, download aplikasinya sekarang!

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. Everything you need to know about Dengue fever
WebMD. Diakses pada 2020. Dengue Fever

Cara Cegah Anak Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

Cara Cegah Anak Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

Halodoc, Jakarta – Belum lama ini beredar viral video seorang siswi SMA di Sulawesi Utara yang sedang di-bully dan juga digerayangi oleh sekelompok anak SMA. Dalam video tersebut, siswi SMA tersebut dipegang dan diraba-raba oleh beberapa siswa dan ada juga siswi. 

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh World Health Organization (WHO) disebutkan di tahun 2018 ada 1 miliar anak usia 2–17 tahun yang mengalami kekerasan fisik, seksual, dan emosional. Mengalami kekerasan seksual di masa anak-anak sangat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan di masa yang akan datang. Informasi selengkapnya ada di  bawah ini!

Mengapa Seseorang Bisa Jadi Pelaku Kekerasan Seksual?

WHO mencatat ada beberapa faktor yang menempatkan seorang anak menjadi pelaku kekerasan seksual. Faktor-faktor tersebut adalah kondisi biologis, seperti jenis kelamin dan usia, kemudian tingkat pendidikan, penghasilan, memiliki masalah pada kesehatan mental, penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang serta pernah mengalami kekerasan sebelumnya.

Baca juga: Memberi Penjelasan pada Anak Soal Pelecehan Seksual 

Ketika berbicara tentang seorang anak menjadi pelaku kekerasan seksual, ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Mulai dari kehidupan personal, interaksi dengan keluarga, lingkup pertemanan, sampai kepada sosial budaya masyarakat dan pemerintah.

Selain faktor-faktor yang disebutkan di atas, hal-hal lain yang memicu seorang anak menjadi pelaku kekerasan seksual bisa jadi karena:

  1. Kurangnya ikatan emosional antara anak-anak dan orangtua.
  2. Praktik pengasuhan yang buruk.
  3. Perpisahan orangtua, ataupun orangtua tidak bisa memberikan kebutuhan fisik dan emosional kepada anak.
  4. Menyaksikan kekerasan semasa kecil dulu. 
  5. Pernikahan dini atau pernikahan karena dipaksa.
  6. Kemiskinan.
  7. Kepadatan populasi yang tinggi.
  8. Norma sosial dan gender yang menciptakan iklim di mana kekerasan menjadi hal yang lumrah.
  9. Tidak ada atau tidak cukupnya  perlindungan sosial di masyarakat.
  10. Situasi yang terjadi pasca konflik atau bencana alam.
  11. Pengaturan dengan tata kelola yang lemah dan penegakan hukum yang buruk.

Mencegah Anak Melakukan Kekerasan Seksual

Setelah membaca faktor-faktor risiko di atas dapat disimpulkan bagaimana peran keluarga dapat membuat anak menjadi sosok seperti apa dalam perannya di masyarakat. Tidak bisa disangkal kalau pengalaman masa kecil, interaksi dengan keluarga, peran pengayoman orangtua dapat membentuk watak dan karakteristik anak. 

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Institute of Medicine dan National Research Council, 2015, anak-anak membutuhkan perawatan semestinya yang mencakup perlindungan emosional dan fisiologi yang diperlukan untuk memenuhi standar pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

Baca juga: Ketahui Ciri Psikopat pada Anak

Dalam tahap tumbuh kembang anak, sangat penting untuk orangtua menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan memberikan simpati pun juga empati kepada orang lain. Ini akan membuat anak belajar memahami kalau dalam situasi sosial, sangat penting untuk memerhatikan perasaan orang lain. 

Hidup bukan untuk diri sendiri, ada orang-orang lain di sekitar yang juga memiliki kepentingan, masalah, dan perasaan yang semestinya harus saling dijaga. Isu gender juga tidak kalah penting ditanamkan ke anak-anak.

Bagaimana menghargai lawan jenis, sesama jenis, bagaimana harus menempatkan diri dalam kondisi yang tidak nyaman atau sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Membela diri dengan cara yang wajar, tidak berlebihan, dan masih sesuai dengan norma.

Informasi selengkapnya mengenai pola asuh yang benar untuk cegah kekerasan seksual terjadi pada anak, bisa ditanyakan langsung di HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orangtua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor ibu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Referensi:

World Health Organization. Diakses pada 2020. Violence against children

National Sexual Violence Resource Center. Diakses pada 2020. Preventing Child Sexual Abuse Resources.

Institute of Medicine and National Research Council, 2015. Diakses pada 2020. Parenting Knowledge, Attitudes, and Practices.

Begini Agar Anak Aman dari Virus Corona

Begini Agar Anak Aman dari Virus Corona

Halodoc, Jakarta – Berbicara virus corona (korona) Wuhan penyebab COVID-19, tentunya membicarakan seratus ribu lebih orang yang terjangkit virus ini. Kira-kira, siapa atau kelompok usia mana yang paling rentan terhadap serangan virus corona terbaru, SARS-CoV-19? 

Ada riset yang bisa kita simak mengenai hal ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Republik Rakyat Tiongkok, telah  merilis data epidemiologi mengenai COVID-19. Data ini meneliti lebih dari 44 ribu kasus COVID-19 di China.

Mau tahu kelompok usia yang paling rentan terhadap serangan virus korona Wuhan? Menurut riset dari total 44.672 kasus, 73 persen pasiennya berusia di atas 40 tahun. Hanya 2 persen saja yang usianya di bawah 20 tahun. Dengan kata lain, semakin tinggi usia seseorang, maka risiko terjangkit infeksi virus ini pun semakin besar. 

Di samping itu, dari 19 pasien yang positif mengidap COVID-19 di indonesia, hanya dua orang yang berusia di bawah 20 tahun. Dengan kata lain, virus ini memang lebih rentan menyerang lansia. 

Lantas, benarkah anak-anak kebal terhadap virus corona? Tentu saja tidak. Ingat, virus corona ini bisa menyerang tanpa pandang bulu. 

Nah, meski faktanya kasus corona pada anak-anak terbilang amat sedikit, tetapi orangtua jangan abai dengan kondisi ini. Lalu, bagaimana sih cara agar Si Kecil terlindungi dari infeksi virus corona? 

Baca juga: Kasusnya Meningkat, Ini 6 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona

COVID-19 vs Flu pada Anak, Mana yang Lebih Bahaya?

COVID-19 yang disebabkan virus corona memiliki satu persamaan dengan influenza atau flu. Kedua penyakit ini sama-sama menyerang saluran pernapasan. Bagaimana dengan kasus flu tiap tahunnya?

Menurut catatan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), di AS sekitar 29 juta orang terinfeksi flu tiap tahunnya. Dari angka tersebut sekitar 280.000 pasiennya harus di rawat di rumah sakit. Namun, 16.000 orang meninggal akibat serangan virus flu. Bagaimana dengan anak-anak? Sebanyak 105 anak-anak juga meninggal akibat virus flu. 

Flu merupakan musuh “lama” yang selalu ada tiap tahunnya, tetapi kita tak boleh abai dengan ancaman di depan mata, yaitu COVID-19. Meski angka infeksi dan kematian COVID-19 hanya segelintir, tetapi virus misterius ini tetap harus diwaspadai.

Baca juga: 19 Pasien di Indonesia Positif Virus Corona, Ini Faktanya

Apa yang Perlu Orangtua Lakukan? 

Secara sederhana cara mengobati infeksi COVID-19, sama dengan infeksi flu, yaitu dengan mencegahnya. Artinya, kembali ke aturan dasar mencegah penyakit yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan. Nah, berikut beberapa hal yang bisa ibu lakukan untuk mencegah infeksi virus corona pada Si Kecil.

  • Cuci tangan, cuci tangan, dan cuci tangan. Mencuci tangan hingga bersih merupakan salah satu cara paling efektif untuk menghindari virus dan kuman. Namun, Si Kecil harus melakukannya dengan benar.

  • Ajari cara mencuci tangan yang tepat. Beri tahu dirinya untuk mencuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik. Mintalah Si Kecil untuk segera mencuci tangannya setelah pulang dari sekolah atau tempat penitipan anak. 

  • Cuci tangan sebelum makan. Tips ini tak bisa ditawar-tawar lagi. Mintalah dirinya untuk mencuci tangan sebelum makan. Bila air tidak tersedia, gunakan hand sanitizer dengan kadar alkohol 60 persen atau lebih.

  • Ajari etika batuk. Bila dirinya batuk, ajari untuk menutup mulut dan hidungnya menggunakan lekukan siku atau tisu. Kemudian, buanglah tisu tersebut ke tempat sampah yang tertutup. 

  • Bersihkan barang-barang di sekitarnya. Virus bisa hidup di permukaan benda selama 24 jam. Oleh sebab itu, bersihkanlah barang-barang yang sering digunakannya. Misalnya, meja, komputer, laptop, atau benda-benda lainnya.

  • Perkuat sistem imun. Berilah Si Kecil asupan makanan yang bisa memperkuat sistem imunnya. Misalnya, sayuran dan buah-buahan yang bisa meningkatkan sistem imun. Contohnya, bayam, brokoli, bawang putih, kunyit, buah-buahan (jeruk, lemon, kiwi, beri, jambu, hingga pepaya), makanan laut (ikan, kerang, dan tiram), hingga yoghurt. 

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

  • Istirahat yang cukup. Tidur bisa membantu untuk “mempersenjatai” sistem kekebalan tubuhnya. Tanpa tidur yang cukup tubuh tidak bisa memproduksi sitokin dengan jumlah yang banyak. Padahal, sitokin merupakan sejenis protein untuk melawan infeksi dan peradangan yang secara efektif menciptakan respons imun. Menurut National Sleep Foundation, anak usia 3–5 tahun setidaknya perlu tidur selama 10–13 jam. Sedangkan usia 6–13 selama 9–11 jam, dan usia 14–17 tahun selama 8–10 jam. 

  • Jangan keluar rumah. Bila Si Kecil sakit, jangan ajak mereka untuk meninggalkan rumah. Perbanyaklah istirahat untuk membantu tubuhnya mengatasi infeksi. Namun, bila gejala tidak membaik, segeralah temui dokter.

  • Tanyakan pihak sekolah. Jangan ragu untuk menanyakan pihak sekolah anak mengenai kebijakan tentang virus corona. 

Mau tahu lebih jauh mengenai cara agar Si Kecil terlindungi dari virus corona? Kamu bisa bertanya langsung pada dokter lewat fitur Chat dan Voice/Video Call atau buat janji dengan dokter di rumah sakit rujukan COVID-19 yang dekat tempat tinggalmu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Chinese journal of Epidemiology. Diakses pada 2020. The epidemiological characteristics of an outbreak of 2019 novel coronavirus diseases (COVID-19) in China.
Web MD. Diakses pada 2020. Coronavirus: What About My Kids?
Healthline. Diakses pada 2020. 15 Foods That Boost the Immune System.
National Sleep Foundation. Diakses pada 2020. National Sleep Foundation Recommends New Sleep Times.
National Sleep Foundation. Diakses pada 2020. How Sleep Affects Your Immunity.

Ajak Bayi Berenang, Perhatikan 9 Hal Ini

Ajak Bayi Berenang, Perhatikan 9 Hal Ini

Halodoc, Jakarta – Selain menyenangkan, berenang memiliki beragam manfaat bagi bayi. Misalnya, melatih otot di seluruh tubuh bayi, meningkatkan keterampilan motorik bayi, hingga menguatkan ikatan anak dengan keluarganya.

Nah, meski kegiatan ini memiliki banyak manfaat, tetapi ada berbagai hal yang perlu diketahui sebelum mengajak bayi berenang. Singkat kata, ibu perlu persiapan matang ketika ingin mengajak bayi berenang. 

Nah, berikut beberapa hal yang yang perlu diperhatikan saat mengajak bayi berenang. 

Baca juga: Usia Ideal Mengajari Bayi Berenang

1. Mulai dari Kolam Sederhana

Andaikan usia bayi masih di bawah 6 bulan, sebaiknya ibu mengenalkan kegiatan berenang melalui media kolam renang plastik. Bila tidak tersedia, ibu bisa mengenalkan kegiatan berenang menggunakan bathtub di rumah. Sebelum mengisi air, pastikan bagian kolam renang plastik atau bathtub bersih dari kotoran. 

2. Pilih Kolam Renang yang Tepat

Memilih kolam renang yang tepat merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum mengajak bayi. Misalnya, bila bayi masih berusia 6 bulan ke bawah, jangan sekali-kali membawanya ke kolam renang umum (semua usia). Apa alasannya? 

Ingat, air di kolam renang umum terlalu dingin untuk bayi di usia ini. Bayi di usia 6 bulan ke atas hanya boleh berenang yang suhu airnya sekitar 32 derajat Celsius. Bila ibu melihat tubuh Si Kecil mulai menggigil, segera angkat dan hangatkan tubuhnya dengan handuk.

Selain itu, kolam renang umum tentunya dipenuhi oleh berbagai orang dengan kesehatan dan kebersihan yang beraneka ragam. Nah, kondisi inilah yang bisa menimbulkan masalah pada bayi nantinya. Alasannya, sistem imun bayi belum cukup kuat. Oleh karena itu, pilihlah kolam renang yang benar-benar bersih untuk mengurangi risiko infeksi. 

3. Tanyakan pada Dokter

Sebelum mengajak bayi berenang, cobalah tanyakan pada dokter demi keamanan dan kesehatan Si Kecil. Ibu perlu tahu, air kolam renang umum biasanya mengandung klorin. Zat ini sebaiknya dihindari bila bayi memiliki kulit kering atau eksim. Sebab klorin dikhawatirkan bisa menimbulkan iritasi pada kulit bayi nantinya. 

Nah, cobalah tanyakan pada dokter mengenai hal tersebut. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. 

4. Pahami Teknik CPR

Sudah tak asing bukan dengan CPR atau cardiopulmonary resuscitation? Singkat kata, CPR merupakan pemberian nafas buatan. Tak ada salahnya mempelajari teknik CPR sebelum mengajak bayi atau anak berenang. Tujuannya jelas, untuk mencegah hal berisiko yang tak diinginkan. 

5. Gunakan Pelampung

Kenakanlah pelampung pada bayi atau anak, meski ibu selalu berada didekatnya. Gunakan pelampung yang direkomendasikan oleh profesional. Jangan sekali-kali menggunakan mainan tiup untuk menjaga bayi di dalam air. 

Baca juga: Agar Lebih Jago di Air, Pastikan Umur Bayi Tepat Sebelum Berenang

6. Jangan Kepalanya

Jangan memasukan seluruh tubuh (kepala hingga kaki) bayi ke dalam air ke dalam air. Meski bayi secara alami akan menahan napas, tetapi air mungkin saja tertelan atau masuk ke dalam hidungnya. Nah, inilah yang membuat bayi lebih rentan pada bakteri dan virus di dalam air kolam renang.

  1. Diawasi Profesional

Sebelum memutuskan untuk berenang di kolam renang atau tempat lainnya, pastikan tempat tersebut diawasi oleh profesional dan fasilitas penyelamat yang memadai.

8. Jangan Mudah Teralihkan

Ibu harus benar-benar fokus ketika menemani bayi atau anak berenang. Jangan mudah teralihkan oleh berbagai hal, terutama smartphone. Fokuskan perhatian hanya pada anak demi keselamatan dan kenyamanannya. 

9. Perhatikan Saluran Pembuangan

Untuk kolam rumah dan spa, pastikan saluran pembuangan memiliki penutup anti-jebakan atau sistem keselamatan saluran pembuangan lainnya, seperti automatic pump shut off. 

Menurut  U.S. Consumer Product Safety Commission, saluran air kolam merupakan salah satu dari lima hal berbahaya yang tersembunyi di area rumah. Pengisap air di kolam renang cukup kuat untuk menahan orang dewasa di bawah air. Ingat, tutup saluran kolam yang hilang atau rusak sering kali menyebabkan masalah. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur chat dan voice/video call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:

Baby Center. Diakses pada 2020. Water safety.  
Parents. Diakses pada 2020. How to Introduce a Baby to Swimming.
 

Atasi Trauma Akibat Gempa pada Anak dengan 5 Cara Ini

Atasi Trauma Akibat Gempa pada Anak dengan 5 Cara Ini

Halodoc, Jakarta – Selasa kemarin sekitar pukul 17.18 WIB, gempa bermagnitudo 5,0 mengguncang Sukabumi, Jawa Barat. Gempa tersebut berkedalaman 10 kilometer, yang menggoncangkan area Sukabumi dan sekitarnya selama 20 detik. Bukan hanya Sukabumi dan sekitarnya, beberapa area di Jakarta juga merasakan dahsyatnya gempa tersebut.

Baca juga: Trauma pada Anak Bisa Ganggu Karakternya saat Dewasa?

Ketika gempa sering melanda, seseorang akan mengalami perubahan pola pikir dan perilakunya, yang berujung pada trauma gempa dan menimbulkan sejumlah gejala. Misalnya keringat dingin, meningkatnya detak jantung, susah berkonsentrasi, serta terganggunya pola tidur normal. Hal-hal tersebut bukan hanya dialami oleh orang dewasa saja, lho. Ketika hal tersebut terjadi pada anak-anak, langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma pada anak?

Bagaimana Langkah Mengatasi Trauma pada Anak?

Bencana alam bukan hanya meningkatkan duka dan kesedihan, tapi juga trauma mendalam. Trauma gempa yang terjadi kemarin dapat menyerang siapa pun, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Hal tersebut yang membuat para volunteer bukan hanya terfokus pada sandang, pangan, papan, serta kesehatan fisik saja. Trauma pada anak pun perlu diperhatikan untuk menghindari gangguan psikologis atau stres pasca gempa. Begini langkah atasi trauma pada anak pasca gempa!

  • Yakinkan Mereka

Meyakinkan anak-anak jika mereka akan selalu baik-baik saja. Cara tersebut akan membantu mereka merasa lebih tenang. Hal yang diperlukan adalah komunikasi terbuka. Jangan memarahi mereka saat mereka menangis, karena hal tersebut akan membuat pemulihan pasca trauma menjadi lebih sulit.

  • Tutup Akses Media

Cara mengatasi trauma gempa pada anak selanjutnya dapat dilakukan dengan menutup semua akses media, baik online hingga televisi. Pasalnya, semakin sering mereka menonton keadaan pasca gempa, maka pikiran dan kondisi psikologisnya akan semakin kacau.

Baca juga: 5 Cara Pemulihan Trauma Psikis

  • Biarkan Mereka Mengekspresikan Perasaannya

Biarkan anak-anak mengekspresikan perasaan dengan cara apapun. Mereka akan berbicara tentang perasaan dan ketakutan mereka untuk mengalihkan rasa cemasnya.

  • Jangan Paksa Mereka Bicara

Ketika mereka ingin bercerita, jadilah wadah untuk menampung. Namun, ketika mereka hanya berdiam diri, jangan paksa mereka bicara. Terus mendesaknya untuk berbicara hanya akan membuat tingkat stres anak meningkat. Alih-alih menyembuhkan trauma pada anak, mereka bisa saja mengalami gangguan psikologis, seperti depresi.

  • Ajak Mereka Beraktivitas

Hal ini dapat dilakukan ketika anak-anak sudah terlihat tenang dan bisa diajak berkomunikasi. Selanjutnya, ajak mereka untuk beraktivitas, seperti bermain sepakbola, membaca buku cerita, atau menggambar. Kegiatan-kegiatan tersebut akan mengalihkan pikirannya pada gempa yang baru menimpanya. Biasanya, volunteer yang datang untuk membantu akan menyiapkan posko untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak dan menjadi pilihan yang tepat untuk menjalani trauma healing.

Trauma pada anak memang dapat segera diatasi, tapi pada beberapa anak, trauma gempa akan menimbulkan reaksi yang lebih dari mereka. Mereka bisa saja kesulitan tidur, mengalami penurunan nafsu makan, takut tidur sendirian, bermimpi buruk, menangis terus-menerus, bahkan menarik diri dari pergaulan. Ketika anak yang mengalami trauma gempa dengan gejala-gejala tersebut, anak harus terus dipantau.

Baca juga: Ini 6 Cara Mengurangi Dampak Trauma Masa Kecil

Jika gejala yang mereka alami semakin parah, segera temui psikolog di rumah sakit terdekat, atau bisa mendiskusikannya langsung dengan psikolog di aplikasi Halodoc untuk membantu pemulihan trauma pada anak. Pemulihan trauma berarti mengatasi kecemasan, ketakutan, serta menyediakan sarana penyelesaian terhadap pikiran dan perasaan negatif yang muncul.

Referensi:

NCBI. Diakses pada 2020. Earthquakes and Children: The Role of Psychologists with Families and Communities.
University of Michigan. Diakses pada 2020. Helping Children Cope with Disasters and Traumatic Events.
NCTSN. Diakses pada 2020. Parent Guidelines for Helping Children after an Earthquake.